Kuburan Bayi
Tana Toraja adalah salah satu tujuan wisata terbaik yang ada di Sulawesi Selatan. Tana Toraja dapat diakses dengan dua rute, yaitu darat dan udara. Rute darat membutuhkan waktu cukup lama, berkisar 8-9 jam. Sedangkan rute pesawat dari Makassar menempuh waktu selama 50 menit. Namun, penerbangan hanya tersedia pada hari dan jam tertentu saja.

Keindahan alam dan budaya leluhur yang dimiliki orang Toraja menjadi daya pikat tersendiri. Memasuki pusat kota Toraja, teman-teman akan disuguhkan kemegahan rumah-rumah tongkonan yang menjadi simbol kekayaan tradisi leluhur ini.

Tidak berhenti sampai di situ. Di tempat yang lain, teman-teman akan melihat berbagai hal unik dari upacara adat, kuburan batu, hingga kuburan khusus bayi. Ya, Toraja menjadi salah satu daerah di dunia yang menyakini kesakralan kematian bayi.

Mendengar orang yang meninggal di makamkan dalam tanah merupakan hal yang biasa dan sudah lumrah, apalagi jika beragam islam, sudah pasti media pemakamannya di dalam tanah. Terus bagaimana jadinya jika manusia dimakamkan di dalam batang pohon. Yah, inilah adat dan budaya yang unik dan menarik yang diperankan oleh suku Toraja. Mereka memakamkan bayinya bukan dalam tanah melainkan dalam batang sebuah pohon.

Kambira merupakan salah satu kampung yang berlokasi di Kecamatan Sangalla, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Apabila ditempuh dari Rantepao yang merupakan ibu kota Toraja Utara tempat ini memang lumayan jauh. Akan tetapi akan menjadi dekat tatkala kita menempuhnya dari Makale, yaitu ibu kota Tana Toraja.

Namanya pohon Tarra, Pohon yang tinggi menjulang ini menjadi tempat peristirahatan terakhir anak penduduk Toraja yang meninggal dunia. Pemakaman ini sering pula disebut sebagai Passilirang oleh masyarakat Suku Toraja.

Pohon Tarra
Pohon Tarra menjadi media kuburan bayi mereka karena pohon ini memiliki banyak getah putih yang mereka yakini dan percaya bahwa getah yang terkandung dalam batang pohon ini bisa menjadi pengganti ASI (Air Susu Ibu). Akan tetapi, pemakaman seperti ini khusus untuk bayi yang baru lahir dan belum sempat menikmati hidup bersama orangtuanya. Dalam adat mereka, penguburan bayi dalam pohon Tarra ini tidak sembarangan. Bayi yang berhak masuk ke tanaman ini adalah bayi yang usianya belum mencapai 6 bulan dan belum tumbuh gigi.

Selain pohon ini dipercaya getahnya bisa menjadi sumber ASI untuk bayi, mereka juga meyakini bahwa pohon ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan sudah dimanfaatkan oleh nenek moyang mereka yang menganut kepercayaan Aluk Todolo.

Dari segi ukuran, pohon ini bisa tumbuh sangat besar, dengan diameter sekitar 80 hingga 100 cm. Pohon ini juga hanya bisa tumbuh dan hanya dapat ditemukan di Desa Kambira, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Letaknya di tengah hutan, di tengah rerimbunan pohon bambu dan tanaman liar lain. Usia pohon-pohon yang tua membuat tempat tumbuh pohon ini dijadikan sebagai objek wisata,
Kambira Baby Graves

Selain mengandung banyak getah sebagai air susu, batang Tarra juga dipercaya sebagai rahim bagi bayi. Masyarakat Kambira percaya bahwa bayi adalah makhluk suci, maka bersemayam di dalam pohon ini sama artinya dengan menyelamatkan generasi selanjutnya. Dalam artian, bayi yang meninggal dalam sebuah keluarga lalu dimakamkan di dalam pohon Tarra akan mampu mencegah kematian bayi selanjutnya.

Dalam satu pohon Tarra bisa ditempati oleh banyak bayi, namun uniknya pohon yang ada di tengah hutan ini tak pernah mengeluarkan bau busuk, sebanyak apapun penduduk yang memenuhi batangnya. Hal tersebut diyakini oleh masyarakat karena Tarra merupakan wujud yang menghidupi. Para bayi yang dimasukkan dalam ‘rahim’ pohon ini akan menyatu dengan sendirinya berkat bantuan getah pohon. Makanya, setelah 20 tahun berlalu, pohon akan kembali mulus dan bisa ditempati oleh bayi lain.
Pohon Tarra

Serupa dengan tempat pemakaman lain di Tana Toraja, penempatan kuburan bayi di Pohon Tarra’ ini juga disesuaikan dengan strata sosial keluarga. Semakin berposisi atas tempat penguburannya, maka hal itu menunjukkan semakin tinggi pula derajat sosial dari keluarga sang bayi. Selain itu, sisi lubang lubang pemakaman juga disesuaikan dengan arah tempat tinggal keluarga.

Hal yang paling unik namun nyata adalah tiadanya aroma busuk di sekitar pohon ini meskipun ada banyak bayi meninggal di sana. Bahkan sesuai penuturan masyarakat adat setempat, lubang kuburan ini akan menutup dengan sendirinya pasca 20 tahun masa pemakamannya. Oleh karenanya masyarakat tak pernah khawatir kehabisan tempat pemakaman di Pohon Tarra’ ini.

Tarra akan dilubangi sesuai dengan ukuran badan sang bayi, lalu bayi dimasukkan ke dalamnya tanpa sehelai pakaian apapun. Tidak memakain sehelai kain karena mereka percaya bahwa berada di dalam batang pohon ini diibaratkan bayi mereka merada di dalam rahim. Kemudian lubang akan ditutup dengan sabut ijuk yang diambil dari pohon enau.

Bayi-bayi itu akan ditempatkan menghadap ke rumah duka, sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga. Strata sosial mempengaruhi tinggi penempatan, semakin tinggi status sosialnya maka akan semakin tinggi posisi kuburannya.

Bagi masyarakat Suku Tana Toraja, pemakaman ini adalah satu hal yang sakral dalam mengakhiri kehidupan seseorang. Tak heran jika banyak sekali adat dalam mengantar mereka ke peristirahatan terakhirnya ini.

pasti penasaran kan, makanya buruan kesini, jangan hanya tinggal berdiam diri di rumah menunggu kopi hangat dari warung tetangga!



Air Kolam Tilanga
Wisata Air Kolam Tilanga terletak diantara Makale dan Rantepao , Tanah Toraja. Wisataini berada di kecamatan Makale Utara adalah sebuah tempat pemandian dengan air alam yang terasa dingin dan memberikan kesejukan. Air kolam yang berwarna kehijauan memiliki kejernihan yang luar biasa hingga teman-teman dapat melihat ke dasar kolam.

Kolam ini memiliki luas sekitar 15 x 25 meter melingkari bebatuan dan pepohonan dengan kedalaman sekitar tiga hingga lima meter di bagian tertentu. Ada pula kolam yang dangkal biasanya untuk digunakan oleh anak-anak. Untuk orang dewasa, ada juga kolam terdalam dan biasanya digunakan jika hendak melompat dari tebing. Bentuknya cerukan pada cadas meski tidak beraturan. Sebagian kolam didominasi batu alam yang langsung menyambung dengan dinding batu di sekelilingnya.

Di kolam ini, teman-teman diperbolehkan untuk mandi sepuasnya. Namun dikolam ini teman-teman tidak diperbolehkan untuk memakai sabun atau shampo dan sejenisnya. Hal ini disebabkan karena di dalam kolam ini terdapat ekosistem berupa belut bertelinga atau sering diistilahkan Massapi dalam bahasa bugis. Belum ini terkadang keluar dari celah bebatuan dibawah kolam namun tak ada yang dapat memastikan tempat tinggal dari belut ini.

Belut ini terkadang keluar dengan sendirinya dan ikut berenang bersama pengunjung. Akan tetapi terkadang pula menghilang dan tidak keluar-keluar. Akan tetapi ada satu cara yang bisa dilakukan untuk bisa memanggil belut ini keluar dari sarangnya. Yakni dengan menjentik-jentikkan jari ke dalam air dengan berbekal telur bebek rebus matang namun hal ini hanya dapat dilakukan oleh anak kecil.

Makanya jangan heran jika berkunjung ke kolam ini dan menemukan cangkang telur disekitaran kolam. Di kolam ini tidak hanya dihuni oleh satu jenis belut, namun terdiri dari beberapa jenis. Ada yang berwarna hitam dan adapula yang belang-belang putih menyeruapai warna tedong bonga atau seperti halnya kerbau belang.

Masyarakat sekitar juga percaya bahwa di dalam kolam ini juga hidup seekor raja belut yang kerap muncul ditengah malam untuk membersihkan kolam dari dedaunan yang berguguran dari pohon-pohon di sekeliling kolam sehingga disetiap pagi hari kolam ini akan kembali bersih.

Air Kolam Tilanga
Konon katanya, pernah ada yang mencoba memancing belut ini, namun beberapa hari kemudian si pemancing meninggal tanpa diketahui penyababnya. Mungkin ini hanya sebatas mitos yang bisa dipercaya pun sebaliknya bergantung kepercayaan dari teman-teman tapi ingat semua yang terjadi karena atas kehendak Sang Maha Pencipta.

Di luar dari berbagai legenda yang menyebar di masyarakat, pemandian ini memiliki pesona yang menawan apalagi dengan airnya yang sangat sejuk dan pastinya akan membuat teman-teman tidak bisa menolak untuk mencicipi kesegarannya. Rimbunnya pepohonan di sekitar kolam dan suara daun bambu yang bergesekan ditiup angin membuat teman-teman akan semakin betah berada disini.

Bagi teman-teman yang penasaran bisa langsung mencoba. Namun tetap harus berhati-hati karena terdapat bagian kolam yang sangat dalam dan sulit untuk disentuh dasarnya. Soal biaya masuk tak perlu khawatir karena secangkir kopi dari warung tetangga sudah lebih dari cukup untuk menikmati kesegaran dan kesejukan air kolam ini.

Tanah Toraja
Tanah Toraja di diami oleh Suku Toraja yang memiliki daerah pegunungan dan mempertahankan gaya hidup yang khas dan masih menunjukkan gaya hidup Austronesia yang asli, mirip dengan budaya Nias. Daerah ini merupakan salah satu objek wisata di Sulawesi Selatan.

Teman-teman pasti tak asing lagi dengan wilayah ini, yang kerap dikunjungi para wisatawan mancanegara karena pesona wisata adat dan budayanya yang memikat. Sayang sih jika hanya sekedar mendengar namun belum pernah berkunjung untuk menyaksikan secara langsung. Namun tenang saja, kalaupun begitu, lebih baik lihat keindahan wisatanya melalui tulisan ini.

1) Air terjun Sarambu Sikore
Air terjun Sarambu Sikore

Namanya sarambu sikore, wisata alam dengan dua buah air terjun yang berasal dari dua sungai berbeda jatuh dalam satu kolam yang sama dan mengalir keluar melalui satu aliran sungai.

Air terjun ini terletak di lembang awan rante karua kab. Toraja utara. Berjarak sekitar 50 kilometer dari kota makale. Air terjun ini dapat diakses dengan melewati kec. Kurra melalui jalur pangala’. Kendaraan tidak dapat menjangkau spot air terjun ini sehingga mengharuskan teman-teman untuk mengeluarkan tenaga sedikit untuk berjalan sekitar 2 kilometer melalui jalan setapak dengan melewati pinggiran tebing curam yang berkelok masuk ditengah hutan belantara. Lebih baik jika didampingi oleh masyarakat lokal.

Air terjun ini masih alami,jatuh dari ketinggian sekitar 90 meter dengan debit air yang cukup deras, lingkungan di sekitarnya pun masih asri dan sangat alami. Sehingga teman-teman bisa merasakan hembusan angin sepoi-sepoi dan nikmatnya air segar dari pegunungan.


2) Sarambu Marintang
Sarambu Marintang

Objek wisata ini terletak di Desa Kalean, Kecamatan Mengkendek. Air terjun ini terdiri atas beberapa gundukan dan membuatnya terlihat seperti memiliki 7 tingkatan. Tak hanya itu saja, tempat ini juga memiliki suguhan penampilan berupa areal persawahan, bukit, dan hutan. Keindahan yang masih asri dan alami akan membuat teman-teman sulit untuk berpaling.

3) Air Terjun Sarambu Ala
Air Terjun Sarambu Ala

Sarambu Ala sebuah air terjun yang terletak di Kecamatan Awan Rantekarua, Toraja Utara. Tempat ini terbilang unik dan berbeda dengan air terjun pada umumnya karena di tempat ini selain akan menemukan air terjun, teman-teman pun akan merasakan sensasi berlibur layaknya di pesisir. Keberadaan gundukan pasir putih membuat suasananya tidak seperti kawasan air terjun pada umumnya. Tumpukan pasir di sekitar sungai ikut hanyut bersama arus dan turun ke kolam, lalu menumpuk dan menjadikan objek wisata ini seperti pantai.

4) Batutomonga

Batutomonga

Batutumonga merupakan kota kecil yang terletak di lereng Gunung Sesean di kecamatan Sesean Suloara. Sekitar 24 kilometer sebelah utara dari kota Rantepao. Wisata ini memiliki panorama yang indah, disepanjang perjalanan dari kota Rantepao menuju Batutumonga dilalui jalan yang berkelok-kelok dan pada beberapa ketinggian dengan pemandangan yang sangat eksotik dapat dinikmati dengan suhu udara yang dingin dan segar.selain karena keindahnya kampung ini pun sering dijuluki negeri diatas awan karena berada disini seakan berada di atas awan.

5) Tinimbayo
Tinimbayo

Tinimbayo berada ketinggian 1225 mdpl dengan posisi koordinat S 02°54’13.9” dan E 119°54’12.4”. Tinimbayo Coffee Shop sebagai salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan bentang keindahan alam Toraja dari ketinggian. Dari sini, teman-teman dapat menyaksikan indahnya hamparan sawah dan deretan rumah tongkonan yang dikelilingi hutan bambu.

6) Lo’ko Mata
Lo’ko Mata

Lo’ko Mata berada ketinggian 1458 mdpl. Disebut Lo’ko’ Mata karena batu alam yang dipahat ini menyerupai kepala manusia, tetapi sebenarnya liang Lo’ko’ Mata sebelumnya bernama Dassi Deata atau Burung Dewa, oleh karena liang ini ditempati bertengger dan bersarang jenis-jenis burung yang memiliki warna bulu indah serta dengan suara yang sangat merdu namun kadang-kadang menakutkan.

Konon katanya, pada abad ke-14 (1480) datanglah seorang pemuda bernama Kiding memahat batu raksasa ini untuk makam mertuanya yang bernama Pong Raga dan Randa Tasik. Selanjutnya pada abad ke-16 tahun 1675 lubang rang kedua dipahat oleh Kombong dan Lembang. Dan pada abad ke-17 lubang yang ketiga dibuat oleh Rubak dan Datu Bua’. Liang pahat ini kemudian digunakan sampai saat ini dan sudah menjadi tradisi. Adapun luas dari wisata ini mencapai ±1 hektar dengan jumlah lubang yang ada sekitar 60 buah.

7) Bukit Ollon
Bukit Ollon

Secara administrasi, Ollon terletak Buakayu, Bonggakaradeng, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Wilayah ini memiliki kontur wilayah berliku-liku, banyak bukit dan juga padang rumput yang awalnya biasa kemudian kini sudah disulap menjadi spot wisata yang banyak dikunjungi.

Bukit ini awalnya hanya dijadikan sebagai kawasan peternakan kuda ollon Sebelum mendadak berubah jadi destinasi wisata yang digandrungi oleh banyak orang.

Pengunjung yang datang ke sini bisa menikmati pemandangan yang indah, bermain di sungai yang mengalir di bawah, atau mengunjungi peternakan kuda. Oh ya, kalau kamu ke sini, jangan sungkan untuk belajar menunggang kuda yang dimiliki penduduk lokal. Dijamin seru dan menantang loh! Namun tetap berhati-hati karena disekitar kawasan bukit ini terdiri dari bukit yang terjal dengan jurang yang curam.

8) Bori Parinding
Bori Parinding

Megalitik Bori Parinding di Kalimbuang Bori Kec. Sesean, Kab. Toraja Utara, Sulsel. Situs megalitik tersebut berjarak sekitar 328 kilometer dari Kota Makassar.

Jika menempuh perjalanan dengan kendaraan pribadi atau bus butuh waktu sekitar 8 hingga 10 jam. Namun perjalanan jauh dan melelahkan akan terbayar lunas saat melihat dan menikmati keindahan situs Bori Parinding. batu-batu menhir berukuran raksasa, tersusun apik akan memanjakan mata teman-teman. Penampakan ini akan membuat teman-teman merasa kembali ke zaman purbakala. Situs purbakala Bori Parinding merupakan kawasan kuburan batu dan rante yakni lapangan rumput yang khusus digunakan untuk upacara penguburan.

Batu Menhir tersebut didirikan untuk menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal. Konon, bebatuan menhir ini ada yang berusia hingga ratusan tahun. Belum ada data pasti mengenai jumlah batu menhir di sini. Ada yang menyebut 102 buah, yakni terdiri dari 54 menhir kecil, 24 sedang dan 24 batu ukuran besar.

9) Museum Ne’ Gandeng
Museum Ne’ gandeng

Museum Ne’ gandeng berada di tengah sawah. Tepatnya di Desa Palangi, Kecamatan Sa’dan Balusu. Ne’Gandeng merupakan salah satu tempat wisata yang juga berada disini. Wisata ini terkenal dengan tongkonannya yang begitu banyak sehingga membuat tempat ini memiliki keunikan tersendiri.

Museum ini letaknya tidak terlalu jauh dari Rantepao, hanya sekitar 10 kilometer. Transportasinya bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Disini teman-teman bisa menaiki tongkonan dan melihat isi yang ada di dalamnya. Museum ini awalnya hanya dijadikan sebagai tempat pelaksanaan prosesi pemakaman Ne’ Gandeng yang merupakan leluhur kampung di tahun 1994, sebagaimana yang diketahui bersama masyarakat Toraja adalah masyarakat yang menghormati leluhurnya. Kemudian dibangunlah museum ini, namun saat ini bukan hanya sekedar museum namun sudah menjadi bagian dari spot wisata yang kerap dikunjungi para wisatawan.

10) Patung Yesus
Lokasi: Puncak Buntu Burake, Kelurahan Buntu Burake, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja
Patung Yesus

11) Agrowisata Pango-Pango
Agrowisata Pango-Pango

Pango-pango merupakan agrowisata yang terletak di Kota Makale, Tana Toraja (Tator). Kawasan wisata ini berada di puncak Gunung Pango-pango.


Air Terjun Talondo Tallu
Air Terjun Talondo Tallu merupakan salah satu air terjun yang terletak di dusun Sanik Lembang Balepe' Kecamatan Malimbong Balepe'. Air terjun ini berjarak sekitar 30 kilometer dari kota Makale. Meski untuk mencapai lokasi ini teman-teman harus berjalan kaki selama kurang lebih delapan kilometer. Akses jalannya pun masih terbilang sulit karena masih berupa tanah.

Dari sekian banyak air terjun yang ada di Tana Toraja, Talondo Tallu termasuk salah satu yang cukup populer. Bukan cuma sekedar menawarkan pemandangan indah dan suasana menyegarkan, lokasi ini juga terbilang unik. Sebab tak seperti lokasi sejenis pada umumnya, aliran air Talondo Tallu memiliki tiga cabang berbeda.

Air terjun ini memiliki tiga cabang yang membuatnya tampak lebih unik dibandingkan air terjun lain pada umumnya. Percabangan tersebut terjadi karena aliran air dari Sungai Pekalian dan Rabung, yang kemudian bertemu dan menjadi Sungai Talondo. Pemandangan yang tersaji pun begitu unik, Tepat di pertemuan tiga aliran terdapat sebuah kolam dengan air yang begitu jernih. Biasanya pengunjung yang datang ke sini akan menghabiskan waktu di sana untuk berenang dan menyegarkan diri dari panasnya cuaca sekitar. Tak hanya itu, udara di kawasan ini juga sangat segar hingga pas sekali untuk bersantai.

Selain keindahannya, Air terjun ini juga menyimpan sejumlah kisah menarik yang bernuansa mistis. Konon katanya, menurut penuturan penduduk sekitar, di dalam kolam air terjun terdapat sejenis belut berukuran besar yang disebut dengan istilah Masapi. Belut ini tak boleh diusik, tidak boleh ditangkap apalagi dimakan, karena masyarakat percaya jika hal ini dilakukan maka akan membawa malapetaka bagi keluarga sipelaku.

Air Terjun Talondo Tallu
Tak cukup sampai di situ, para pengunjung pun menurut informasi dilarang mengenakan pakaian hitam. Namun tidak disebutkan secara detail alasannya, namun himbauan tersebut sudah ada sejak dulu dan sudah disampaikan secara turun-temurun pada penduduk di wilayah ini.

Selain itu, menurut informasi sekitar air terjun ini pun dijaga oleh seorang nenek tua yang tinggal digerbang yang berperan sebagai penjaga air terjun. Nenek ini bernama Bungan atau penduduk sekitar lebih mengenalnya dengan sebutan Ne’Sewa atau Indo' Talondo. Diprediksi nenek ini sudah berumur lebih dari 70 tahun.

Statusnya bukan hanya sekedar sebagai penjaga, namun nenek ini tidak seperti orang-orang pada umumnya alias bukan orang sembarangan. Menurut masyarakat sekitar bahwa rambut Indo' Talondo ini sejak berumur 10 tahun hinggah berumur 70 tahun rambutnya tetap dipelihara, karena gunting biasa tidak mempan untuk memotongnya. Kini rambut panjangnya terurai hingga delapan meter.

Penduduk setempat meyakini bahwa nenek ini bisa merasakan tanda-tanda akan terjadinya bencana lewat rambutnya. Namun sayang, tidak semua pengunjung bisa melihatnya kecuali mendapat izin dari pemangku adat. Setiap saat nenek ini melakukan ritual adat di lokasi air terjun ini untuk menjaga keselamatan bagi para pengunjung, karna konon katanya ada penjaga lain selain dirinya yang tinggal disini.

Pasti penasaran kan tentang cerita lengkap dan keindahan dari perawakan air terjun ini. maka buruan kesini, kalau perlu ajak do,i biar nggak sendiri. Tapi hati-hati loh jangan sampai melakukan tingkah aneh. Bisa-bisa dapat teguran dari nenek.



Air Terjun Sarambu Assing
Air Terjun Sarambu Assing merupakan wisata air terjun yang sangat menakjubkan di Tanah Toraja berada d Makale tepatnya di Lembang Patongloan yang masuk dalam bagian Bittuang. Air terjun ini menjadi favorite yang direkomendasikan bagi teman-teman yang ingin menikmati keindahan alam dan pesonanya. Letaknya yang berada di tengah hutan belantara menjadikan air terjun ini kerap banyak dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin merasakan sensasi alam yang menawan.

Akses menuju ke air terjun ini jika berangkat dari kota Makassar membutuhkan perjalanan selama 8 jam dengan jarak tempuh 332 kilometer. Akan tetapi jika berangkat dari kota Makale hanya berjarak 40 kilometer atau sekitar 1 jam perjalanan.

Soal kendaraan bergantung dari kemampuan teman-teman, bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun jika boleh menyarankan lebih baik menggunakan kendaraan pribadi agar lebih nyaman dan bisa santai disepanjang perjalanan.

Untuk sampai ke air terjun ini teman-teman harus mengeluarkan sedikit keringat dan tenaga karena akses kendaraan tidak sampai ke spot air terjun, hingga teman-teman harus berjalan kaki, tapi tak perlu khawatir karena kondisi jalannya baik dan menyenangkan. Yah, anggap saja berolahraga biar berat badannya bisa berkurang. Wkwkwkwk...

Kira-kira, teman-teman perlu menghabiskan waktu 30 menit untuk mencapai air terjun atau dengan berjalan sekitar 3-4 kilometer. Dalam perjalanan teman-teman akan melintasi aliran sungai, semak belukar dan hutan belatara dengan suguhan hijaunya yang menawan.
Rute ke spot air terjun cukup licin jika musim hujan, makanya disarankan lebih baik berkunjung pada saat musim kemarau. Namun jika tak mau repot, lebih baik menggunakan sepatu hiking biar lebih aman dan nyaman disepanjang perjalanan. disepanjang perjalanan teman-teman akan disuguhkan pemandangan alam yang sangat menakjubkan.

Setelah sampai ke air terjun teman-taman akan merasakan suasana santai dan damai berkat keindahan alam. Lokasinya yang terpencil, dikelilingi tanaman hijau, berada dipegunungan alami menjadi ciri khas dari air terjun ini.

Belum lagi dengan keindahan air terjunnya yang mempesona. Debit airnya yang deras, jernih dan alami jatuh dari ketinggian 70 meter menggilas teping batu hingga mengeluarkan kilau yang menawan, jatuh kedalam kolam dan membentuk arus yang tenang kemudian mengalir keberapa aliran anak sungai dan mengalir kedalam hutan belantara. Saking kerennya, air terjun ini dijuluki air terjun terindah di Sulawesi Selatan loh. Wah,,,,,,,,

Gimana teman-teman penasaran kan dengan keindahan air terjun yang satu ini. pastinya, namun tidak lengkap rasanya jika hanya sekedar melihat tanpa merasakan sejuk dan segarnya air ini. makanya wajib mandi biar berasa nikmatnya.
Soal biaya masuk tak perlu khawatir, karena secangkir kopi dari warung tetangga sudah lebih dari cukup ko’.


Pulau Panikiang

Pulau Panikiang merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Barru yang menawarkan segala keunikan. Pulau tersebut berada di Dusun Panikiang, Desa Madello, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru. Berada di sebelah utara laut lepas Sumpang Binangae. Sebuah pulau yang dihuni oleh 70 KK atau sekitar 185 penduduk.

Pulau Pannikiang merupakan pulau yang dihuni oleh ekosistem kelelawar yang hidup di sela-sela pohon mangrove. Kelelawar dalam bahasa bugis disebut “Panning” merupakan awal nama dari pulau pannikiang dan bahkan dikenal menjadi salah satu nama dusun di kecamatan Balusu.

Selain itu, Tempat ini juga menjadi daerah yang memiliki hutan mangrove terbaik di Sul-Sel. Sedikitnya terdapat 17 jenis tanaman mangrove yang ada disini, terhitung berdasarkan penelitian oleh salah satu mahasiswa unhas tahun 2003 silam. Berbeda hanya ditempat lain yang pada umumnya ditumbuhi hanya tiga jenis saja. Salah satu manggrove yang terbilang langkah ada disini seperti jenis ceriops decandra. Hutan mangrove tersebut sekaligus menjadi habitat oleh segerombolan kelelawar. Teman-teman bisa melihat kelelawar sedang tertidur dan bergelantungan di atas pohon mangrove pada siang hari.

Pulau Panikiang
Karena hal ini sehingga pulau ini berhasil menyabet juara ke 3 sebagai kawasan destinasi wisata pulau berwawasan lingkungan kategori ekowisata tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.

Bukan hanya keindahan perawakannya namun pulau ini sudah difasilitasi dengan jembatan kayu yang siap mengantar teman-teman menelusuri rimbunan hutan manggrove. Pastinya ketika teman-teman berkunjung ke pulau ini, maka bukan hanya bibir pantai yang terjuntai hingga ke laut, bukan pula hanya birunya laut yang menyatu seakan memberikan pesona alami yang menawan. Namun lebih dari itu, di pulau ini teman-teman akan merasakan sensasi berbeda dan menyenangkan dengan menelusuri rimbunnya manggrove.

Selain itu, di pulau ini pun teman-teman dapat menemukan hampir 20 spesies Burung dan di tengah pulau ini ada tambak kecil yang membuat teman-teman bisa lihat birunya langit dari biasan jernihnya air. Bukan Cuma itu, di sini paling cocok kalau piknik bersama dengan keluarga, dan paling keren untuk mengambil gambar pra wedding.

Pulau Panikiang
Tak hanya sampai disini. Konon katanya, pulau ini menyimpan misteri pada tahun 2007 silam yang cukup menyita perhatian warga, bahkan menjadi perbincangan hangat di Sul-Sel. Hal ini disebabkan oleh adanya seorang gadis yang melahirkan tanpa pernah menikah. Gadis yang berparas ayu itu mengaku hamil namun tak pernah melakukan hubungan intim. Bahkan yang lebih mengagetkan lagi, karena anak yang dilahirkannya pun memiliki keajaiban berupa lafas Allah di beberapa bagian tubuhnya. Sehingga pada waktu itu, masyarakat mulai berbondong-bondong berkunjung ke pulau ini untuk menyaksikannya secara langsung.

Makanya tunggu apalagi, buruan kesini, Sayang jika berada di kota ini dan tidak menyempatkan untuk berkunjung untuk mendengar lebih rinci cerita dibalik pesona pulau ini.
Diberdayakan oleh Blogger.