Pantai Losari merupakan sebuah pantai yang sangat terkenal di kota Daeng. Pantai yang  berada  jalan Penghibur tepatnya di sebelah barat kota Makassar. Menuju ke pantai ini dari pusat kota  sekitar 3 kilometer yang dapat dijangkau dengan berbagai macam transportasi seperti taksi online, angkotan umum, dan kendaraan yang lain.

Pantai ini kerap menjadi sarana berkumpul dan tempat hiburan  bagi warga dan parawisatawan  untuk sekedar melepas penat dihari libur. Pantai ini ramai hampir di setiap waktu. Baik  pagi, sore dan malam hari. Pantai ini juga akan terlihat lebih indah ketika menjelang senja, selain cuaca  tidak panas, fenomena matahari tenggelam atau sunrise pun dapat terlihat.

Pantai ini awalnya disebut sebagai pasar ikan, dimana orang pribumi banyak yang jualan ikan khususnya ikan bakar. Di tempat inilah dimanfaatkan masyarakat sebagai pusat pasar ikan di kota Makassar, selain itu, di sore hari akan terlihat banyak pedagang yang berjualan jajanan dibawah jejeran tenda seperti kacang, pisang epe atau pisang geprek, salah satu penganan khas Makassar. Pisang mentah yang dibakar kemudian dibuat pipih dan dicampur dengan air gula merah.

Dulunya, pantai ini disebut meja terpanjang di dunia ataupun sering pula diistilahkan warung terpanjang di dunia, karena sepanjang pantai dihiasi dengan jejeran tenda yang menurut informasi panjangnya mencapai 1 kilometer. Wajar jika di istilahkan sebagai meja terpanjang di dunia. Namun saat ini telah berubah rupa, warung-warung tersebut telah direlokasi ke tempat yang tidak jauh dari pantai, agar wisatawan bisa menikmati keindahan pantai.

Soal penamaan “Losari” menurut beberapa sumber, kata losari dibagi menjadi dua kata yaitu “Los” dan “Ari”. Kata “Los” ini mempunyai makna ambigu yang berarti tempat jual-beli, pertokoan, atau pasar yang menjual berbagai produk . kata “Los” dalam konteks jawa juga berarti terlepas atau bebas, jadi intinya tempat jual beli yang bebas di pantai ini. Sedangkan kata “Ari”, yang berarti pembungkus atau penyuplai karena diambil dari kata ari-ari. Dari sinilah pantai dinamakan dengan pantai losari.

Namun saat ini pantai ini sudah berubah 180 derajat jadi bentuk awalnya. Rupanya telah disulap menjadi sebuah destinasi wisata yang menarik dan sangat mengagumkan. Jadi jangan heran jika pantai Losari kini menjadi destinasi terpopuler di kota Daeng.

Bukan hanya pemandangannya yang menarik namun, pantai ini akan memberikan sensai yang berbeda dengan pantai pada umumnya. Selain dapat melihat keindahan sunset di sore hari, ditempat ini pula tersedia fasilitas yang super lengkap seperti tersedia banyak hotel dan penginapan dengan harga yang beragam dan relatif murah, tersedianya berbagai fasilitas penunjang seperti toilet umum, mushollah, tempat duduk santai, gallery art, spot foto, dan masih banyak lagi fasilitas lain yang siap memanjakan kehadiran teman-teman.

Tidak hanya sampai distu, salah satu keunggulan dan keunikan dari destinasi yang satu ini karena dilengkapi dengan mesjid terapung yang super keren, berdiri kokoh diatas laut dengan ornamen yang sangat mengagumkan, serta kini dibangun mesjid 99 kuba yang siap memanjakan mata teman-teman. Selain itu, disepanjang pantai ii dilengkap dengan Wifi gratis sehingga teman-teman yang lagi habis kuota, tetap bisa mengupload atau mengirim foto-foto kepada teman-teman atau pacarnya tanpa mesti harus terbebani dengan dompet yang lagi kosong. Wkwkwkwk.......

Apalagi bagi teman-teman yang lagi lapar, jangan khawatir karena ditempat ini pun tersedia berbagai jajanan kuliner khas kota Daeng seperti pallu butung, jajanan pisang epek, es pisang ijo, menu sop konro dan coto makassar. Jadi tunggu apalagi, ayo buruan berkunjung dan mengabadikan momen di pantai ini.

Tanah Sulawesi tak hanya dikenal kaya akan spot wisata yang dimiliki, namun disini teman-teman pula dapat menemui berbagai macam kuliner tradisional khas yang memiliki citarasa yang pastinya akan memanjakan lidah teman-teman.

Salah satu kuliner yang tak kalah nikmatnya dari coto dan konro yang sudah mendunia yakni Sop Suadara kuliner khas dari kabupaten Pangkep. Sop saudara merupakan masakan khas berupa hidangan berkuah dengan bahan dasar daging sapi yang biasanya disajikan bersama bahan pelengkap seperti bihun, perkedel kentang, jeroan sapi (misalnya, paru goreng), dan telur rebus. Masakan ini umum dikonsumsi bersama dengan nasi putih dan ikan bolu (bandeng) bakar.

Konon katanya, sop saudara berawal dari H. Dollahi yang merupakan seorang pelayan dari H. Subair, seorang penjual sop daging yang cukup terkenal di Makassar pada era tahun 1950-an. Keduanya adalah warga kampung Sanrangan Pangkep yang mengadu peruntungan untuk meneruskan hidup dengan membuka warung makan.

Setelah selama 3 tahun berkongsi, H. Dollahi pun memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri pada tahun 1957 dengan membawa nama Sop Saudara yang membuka lapak di kawasan Karebosi, Makassar. Racikan H. Dollahi ini ternyata mampu menarik minat pecinta kuliner baik bagi warga asli maupun pendatang.

Nama Sop Saudara yang unik ini dipilih karena terinspirasi dari nama "coto paraikatte" (biasa dijadikan nama warung yang menjual Coto Makassar). Dalam bahasa Makassar "paraikatte" berarti "saudara" atau "sesama". Dengan nama tersebut, H. Dollahi berharap semua orang yang makan di warung ini akan merasa bersaudara dengan pemilik, pelayan dan sesama penikmat Sop Saudara. Ada pula yang mengatakan bahwa penamaan dari Sop Saudara merupakan singkatan dari daerah asal yang merupakan singkatan dari Semua Orang Pangkep Bersaudara.

Sop Saudara tidak jauh berbeda dengan Coto Makassar makanan khas Sulawesi Selatan lainnya. Sama-sama berbahan baku daging sapi dan keduanya disajikan dalam mangkuk kecil. Yang berbeda adalah Sop Saudara menggunakan parkedel kentang sedangkan Coto Makassar tidak. Bumbu yang digunakan juga sedikit berbeda menggunakan merica dan ketumbar. Yang lainnya sama, keduanya menggunakan bawang merah, bawang putih, lengkuas sebagai bumbu dasarnya.

Perbedaan lain dari keduanya adalah cara penyajiannya. Coto Makassar biasanya disajikan bersama ketupat, sedangkan Sop Saudara disajikan dengan nasi dan ikan bakar (bandeng). Tetapi menurut sang penemunya, hidangan Sop Saudara akan terasa lebih istimewa bila tidak dihidangkan dengan ikan bakar karena menurutnya Cobe-Cobe (saus) dari ikan bakar bisa menghilangkankan aroma dan rasa khas Sop Saudara.

Bagaimana penasaran yah, makanya buruan berkunjung kesini. Ingat loh Tanah Sulawesi tidak hanya kaya akan potret wisata namun disini kaya pula akan kuliner khas yang siap membuat lidah teman-teman bergetar. Ingat yah, namanya Sop Saudara asal Pangkep !


Massaung manuk merupakan sebuah penamaan dari permainan masyarakat bugis yang menggunakan ayam sebagai objek permainan yang disebut“sabung ayam” dalam bahasa Indonesia. Permainan ini dulunya hanya dilakukan para raja dan bangsawan Bugis pada pagi atau sore hari untuk memeriahkan pesta-pesta adat seperti, pelantikan raja, perkawinan, dan panen raya.

Konon, permainan ini bermula dari kegemaran para raja yang sering mempertarungkan pemuda-pemuda di seluruh wilayah kerajaannya untuk mencari tubarani-tubarani (pahlawan) kerajaan yang akan dibawa ke medan pertempuran. Jadi, pada waktu itu yang disabung bukanlah ayam melainkan manusia. Namun, lama-kelamaan, mungkin karena semakin jarangnya terjadi peperangan antarkerajaan, pertarungan antarmanusia itu berubah menjadi pertarungan antarayam yang dinamakan massaung manuk.

Pada waktu itu permainan tidak hanya dilakukan di dalam sebuah kerajaan, tetapi juga antarkerajaan yang tujuannya tidak hanya untuk bersenang-senang tetapi juga sebagai ajang adu prestasi, gengsi dan perjudian. Pemilik yang ayamnya selalu menang akan dianggap sebagai orang yang berhasil melatih ayam aduannya, dan kedudukannya akan dipandang lebih tinggi di kalangan para pengadu ayam.

Kemudian, ayam aduan yang selalu menang dalam pertarungan akan menjadi “maskot” kerajaan sebagai lambang keberanian. Nama pemiliknya pun akan dikenal oleh seluruh penduduk, baik di dalam maupun di kerajaan-kerajaan lainnya. Bahkan, ketika itu banyak pahlawan Bugis yang sering menggunakan julukan yang sama seperti nama-nama ayam yang terkenal di daerahnya masing-masing, misalnya, I Segong Ri Painaikang, Buleng Lengna Lantebung, Cambang Toana Labbakang, Korona Jalanjang, Campagana Maccinibaji dan lain sebagainya.

Jumlah pemain massaung manuk tidak dibatasi. Namun, untuk satu kali pertandingan hanya diikuti oleh dua orang peserta karena ayam yang akan diadukan harus satu melawan satu. Permainan ini hanya dimainkan oleh laki-laki, dari usia remaja hingga orang dewasa (tua).

Permainan ini dapat dilakukan di mana saja, asalkan memiliki arena yang berbentuk lingkaran atau persegi empat seluas sekitar 5 x 5 meter. Jadi, bisa di pekarangan rumah maupun lapangan. Permainan ini biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari.

Peralatan yang digunakan dalam permainan ini adalah: ayam, taji, dan kayu bercagak. Ayam yang akan diadu bukan sembarang ayam, tetapi ayam jantan yang dinilai kuat, besar dan tangguh dalam bertarung. Ayam-ayam yang telah dipilih menjadi ayam-aduan biasanya akan dirawat dengan sangat baik.

Adakalanya ayam-ayam ini dimantrai atau dijampi-jampi agar dapat mengalahkan lawannya. Taji adalah senjata yang diikatkan pada kaki ayam agar serangannya efektif dan mematikan. Alat ini terbuat dari logam dan berbentuk runcing menyerupai keris atau badik kecil. Kayu bercagak pada saatnya akan diselipkan di leher ayam yang kalah untuk dipatuk oleh ayam yang menang.

Peraturan permainan massaung manuk tergolong sederhana, yaitu apabila dua ekor ayam jantan diadukan dan salah satu diantaranya kalah atau mati, maka ayam yang dapat mengalahkannya dinyatakan sebagai pemenang.

Permainan dimulai dengan pengundian untuk menentukan ayam siapa saja yang nantinya mendapat giliran untuk bertarung. Setelah urutan peserta yang ayamnya akan bertarung ditetapkan, maka bagi yang mendapat giliran pertama akan memasukkan ayamnya ke dalam arena. Kemudian, ayam-ayam tersebut oleh pemiliknya akan dipasangi sebilah atau dua bilah taji, bergantung kesepakatan para pemilik ayam. Orang Bugis menyebut pemasangan taji ini sebagai rinrelengngi, sedangkan orang Makassar menyebutnya nibulanggi.

Setelah itu, ayam diadu sampai ada yang kalah atau mati. Pada saat kedua ayam berlaga, penonton bersorak-sorai menyemangati ayam yang dijagokannya. Sementara, pemilik ayam berkeliling, menyemangati ayamnya dengan teriakan, dan sekaligus mengawasinya (berjaga-jaga). Ayam yang “kalah” lehernya akan dijepit dengan kayu bercagak. Kemudian, ayam yang menang harus mematuk kepalanya sejumlah tiga kali. Jika ayam yang “menang” itu tidak dapat mematuk sejumlah tiga kal, maka permainan dianggap seri.

Dalam perkembangannya, permainan yang disebut sebagai massaung manuk ini tidak hanya dimainkan oleh kaum bangsawan saja, melainkan juga oleh oleh rakyat jelata. Permainan juga dapat dilakukan kapan saja, tanpa harus menunggu adanya pesta-pesta adat terlebih dahulu. Saat ini permainan massaung manuk dilarang oleh pemerintah, disamping karena lebih menekankan pada motif perjudian, juga dianggap terlalu kejam dan merendahkan martabat manusia. Padahal, bagi masyarakat “tradisional” Bugis, menganggap bahwa sesuatu yang berlaga hingga mengeluarkan darah, dipercaya akan menambah keberanian dan kesaktian.

Walaupun pemerintah dan sebagian masyarakat Bugis menganggap bahwa permainan massaung manuk bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan, namun lepas dari masalah itu sesungguhnya permainan ini mempunyai nilai yang sangat berguna dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu adalah: kerja keras, kreativitas dan sportivitas.

Nilai kerja keras tercermin dari perawatan ayam aduan yang dilakukan dengan sangat baik melebihi perawatan ayam-ayam biasa yang bukan aduan. Disamping merawat, pemilik ayam juga harus melatih ayam aduannya agar semakin lihai dalam bertarung.

Nilai kreativitas tercermin dari cara-cara yang dilakukan oleh pemilik ayam dalam memilih ayam aduan yang baik dan dalam menggunakan peralatan-peralatan khusus (taji) agar ayamnya dapat menang secara cepat dan efektif. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada ketika ayamnya kalah atau mati.

Teman-teman yang pernah berkunjung ke Tanah Sulawesi, pastinya tau tentang sebuah suku yang mendiami hampir diseluruh wilayah di tanah Sulawesi.  Suku yang kaya akan budaya, adat dan tradisi. Yah, itulah Suku Bugis.

Suku Bugis merupakan suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero-melayu, atau Melayu muda. masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata ‘Bugis’ berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan ‘ugi’ sendiri merujuk pada nama raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Tiongkok, tapi salah satu daerah yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi.

Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading.

Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar didunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan lain. Masyarakat Bugis ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik dan besar antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa dan Sawitto (Kabupaten Pinrang), Sidenreng dan Rappang.

Meski tersebar dan membentuk etnik Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi Birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad 16,17,18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama didaerah pesisir. Komunitas Bugis hampir selalu dapat ditemui di daerah pesisir di nusantara bahkan sampai ke Malaysia, Filipina, Brunei dan Thailand. Budaya perantau yang dimiliki orang Bugis didorong oleh keinginan akan kemerdekaan.

Teman-teman pernah mendengar sebuah suku cukup unik, mendiami suatu daerah di tanah Sulawesi. Konon katanya suku ini berbeda dengan suku yang lain pada umumnya. Yah, yang ku maksud Suku To Balo yang berada di Desa Bulo-Bulo sekitar 70 kilometer arah tenggara dari Kota Barru.

Desa ini berpenghuni + 440 KK sekitar 1.720 jiwa, Sebuah desa yang saat ini sudah dapat dijangkau ini dengan kendaraan roda empat. Meski kondisi jalannya masih sulit karena reruntuhan tebing, bebatuan dan jurang-jurang yang berbahaya.

Penduduk Desa Bulo-Bulo ini sebenarnya tidak hanya dihuni oleh Suku To Balo saja, disana juga didiami suku Makasar dan Suku Bugis yang merupakan penduduk asli. Komunitas Suku To Balo juga sebenarnya suku asli yang mendiami salah satu dusun yang disebut dusun Labaka yang hanya berpenghuni sekitar 50 KK.

Suku ini menempati puncak gunung tandus, dihiasi tebing-tebing berbatuan granit bagaikan relief-relief abstrak, yang pada puncaknya berupa padang sabana. Menurut kepercayaan suku ini, bukit-bukit serta padang sabana yang mengitari dusun ini merupakan lingkungan tempat tumbuhnya Aju Welenrengnge, pohon raksasa yang dalam mitologi La Galigo ditebang oleh Sawerigading untuk membuat perahu yang digunakan berlayar ke Tanah Cina.

Lebih uniknya karena populasi dari suku ini terbatas tak boleh lebih dari 11 orang, jadi jika ada yang melahirkan maka akan ada kematian dari salah satu anggota keluarga. Entah ini benar adanya atau hanya sekedar mitos namun inilah kepercayaan yang dibangun dan diyakini oleh suku ini. Berdasarkan buku informasi wisata Kabupaten Barru berjudul " Barru dalam visualisasi" yang diterbitkan pemda Barru tahun 1997.

Selain keunikan tersebut suku ini juga dikatakan tidak mempan dibakar api, buktinya dengan contoh adanya Tari Sere Api, yaitu tari yang dilaksanakan dengan menari diatas bara api yang masih menyala.
Tari ini menurut kepercayaan mereka adalah tari ritual budaya suku To Balo yang mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran putra / putri penghulu mereka, namun ada juga yang menganggap bahwa tari ini adalah tari yang menggambarkan pengungkapan rasa terima kasih atas hasil panen yang berlimpah, makanya tari ini sering dipadukan dengan tari Mappadendang yaitu tari pesta panen.

Masayarakat suku ini secara fisik memiliki ciri khas sendiri yaitu, penampilan kulit yang putih (belang) pada bagian tubuhnya yaitu di kaki, badan dan tangan, dan yang unik adanya bercak putih yang ada di dahi yang berbentuk segi tiga, makanya mereka disebut juga dengan To = orang Balo=Belang yang berarti orang belang.

Kelainan yang dimiliki suku ini bukanlah penyakit tetapi pembawaan gen. Akan tetapi, penduduk setempat meyakini sebagai kutukan dewa. Alkisah suatu hari, ada satu keluarga yang melihat sepasang kuda belang jantan dan betina yang hendak kawin. Namun mereka Bukan hanya menyaksikan, keluarga itu juga menegur dan mengusik tingkah laku ke-2 kuda itu.

Maka geramlah dewa lalu mengutuk keluarga ini, hingga berkulit seperti kuda belang atau belang. Lantaran malu dengan keadaan kulitnya yang belang, keluarga tersebut memilih untuk hidup di pegunungan yang jauh dari keramaian. Ada juga cerita versi lain. Para kelompok Tobalo yakin, manusia dan kuda turun bersama dari langit kala bumi pertama diciptakan. Artinya, hewan berkaki empat itu bersaudara dengan Manusia.

Suku To balo menggunakan bahasa sendiri yang oleh mereka disebut bahasa Tobentong, bahasa ini merupakan perpaduan kode bahasa Bugis, Makasar dan Konjo, hal ini merupakan fenomena lingual yang langka, karena meskipun populasinya sedikit tapi mereka mempunyai dan mampu memelihara bahasanya sendiri sebagai simbol eksitensi mereka dan mereka menghormatinya.

Namun demikian mereka juga bisa menggunakan bahasa Makassar, Bugis dan Konjo untuk berkomunikasi dengan suku yang lain. Karena ke khususannya ini maka sebagian peneliti menyebut suku ini sebagai suku Tobentong.

Mereka pada umumnya kawin dengan kelompok mereka sendiri sehingga dengan demikian, keturunan mereka akan menghasilkan kulit yang sama, tapi jika mereka kawin dengan kelompok yang lain, maka kemungkinan besar akan memiliki keturunan yang berbeda.

Kehidupan mereka saat ini sepertinya tidak pernah berubah dari waktu ke watu, tapi beberapa waktu terakhir suku ini sudah mulai menerima beberapa budaya yang masuk ke tempat mereka, seperti adanya sekolah, bahkan anak-anak di sana sudah terbiasa untuk sekolah meskipun dalam bentuk yang sederhana, tapi walau begitu perlahan akan mengikuti perkembangan zaman, meski dalam batas-batas tertentu mereka akan tetap menyakini dan menjaga hal-hal yang bersifat spiritual di lingkungan mereka.

Jika berkunjung ke tanah Sulawesi tak lengkap rasanya jika hanya sekedar menikmati indahnya pemandangan alamnya yang mempesona. Meskipun spot wisatanya yang memikat, namun tak lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner khasnya yang memukau dan membuat lidah cetar membahana.

Saya tidak akan bercerita tentang Coto kuliner khas Makassar yang sudah mendunia namun kali ini akan bercerita tentang kuliner khas dari Enrekang sebuah daerah yang kerap disebut Bumi Massenrengpulu.

Namanya Nasu Cempa diambil dari bahasa bugis yang berarti masakan asam. Soal rasa, jangan diragukan. Perpaduan rasa asam dan gurihnya membuat lidah teman-teman tak akan berhenti menikmatinya. Dinamakan Nasu Cemba karena kuliner yang satu ini dimasak dengan menggunakan campuran daun asam atau disebut daun cemba dalam bahasa bugis. Biasanya, daun Cemba tumbuh liar di Kota Bumi Massenrempulu yang artinya pinggiran gunung.

Konon katanya, kuliner ini merupakan warisan nenek moyang. Sehingga disetiap acara baik pernikahan ataupun syukuran tak elok rasanya jika tidak menyajikan masakan yang satu ini.

Cara membuat masakan yang satu ini terbilang mudah, hanya bermodalkan bahan utama berupa daging yang masih melekat di tulang iga sapi, daun-daun cemba, serta bumbu-bumbu lain yang digunakan seperti batang serei, merica atau lada, ketumbar, kunyit, bawang merah dan bawang putih, jahe, lengkuas dan batte kaluku atau kelapa sangrai. Semua bumbu dihaluskan dan ditumis kecuali batte kaluku atau kelapa yang sudah disangrai, lengkuas, serei hanya dimemarkan.

Sementara itu daging iganya dimasak di atas panci besar ukuran 60 liter selama satu setengah jam untuk mencapai keempukan daging yang pas. Selanjutnya di tengah-tengah proses itu, semua bumbu tumis termasuk batang serei yang dimemarkan kemudian tambahkan garam dan penyedap rasa.

Menyusul 2 kilogram batte kaluku atau parutan kelapa sangrainya bersama daun cemba sebanyak setengah kilogram. Beberapa menit setelah semua bumbu dan dagingnya menyatu, aroma sedap mulai menyeruak dan teman-teman pasti tidak sabar untuk segera mencicipinya.

Penasaran ingin mencicipinya makanya buruan berkunjung kesini, sekalian nikmati lelukan paras kota Bumi Massenrempulu yang menawan.
Diberdayakan oleh Blogger.