Akbarpost/Bulukumba secara wilayah berada pada kondisi empat dimensi, yakni dataran tinggi pada kaki Gunung Bawakaraeng – Lompobattang, dataran rendah, pantai dan laut lepas. Kabupaten ini terletak di ujung bagian selatan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, terkenal dengan industri perahu pinisi yang banyak memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Jarak tempuh dari Kota Makassar kira-kira sekitar 153 kilometer.

Daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0 s/d 25 meter di atas permukaan laut meliputi tujuh kecamatan pesisir, yaitu: Kecamatan Gantarang, Kecamatan Ujungbulu, Kecamatan Ujung Loe, Kecamatan Bontobahari, Kecamatan Bontotiro, Kecamatan Kajang dan Kecamatan Herlang.

Daerah bergelombang dengan ketinggian antara 25 s/d 100 meter dari permukaan laut, meliputi bagian dari Kecamatan Gantarang, Kecamatan Kindang, Kecamatan Bontobahari, Kecamatan Bontotiro, Kecamatan Kajang, Kecamatan Herlang, Kecamatan Bulukumpa dan Kecamatan Rilau Ale. Daerah perbukitan di Kabupaten Bulukumba terbentang mulai dari Barat ke utara dengan ketinggian 100 s/d di atas 500 meter dari permukaan laut meliputi bagian dari Kecamatan Kindang, Kecamatan Bulukumpa dan Kecamatan Rilau Ale.

Untuk mitologi penamaan "Bulukumba", konon bersumber dari dua kata dalam bahasa Bugis yaitu "Bulu’ku" dan "Mupa" yang dalam bahasa Indonesia berarti "masih gunung milik saya atau tetap gunung milik saya".

Mitos ini pertama kali muncul pada abad ke–17 Masehi ketika terjadi perang saudara antara dua kerajaan besar di Sulawesi yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Di pesisir pantai yang bernama "Tana Kongkong", di situlah utusan Raja Gowa dan Raja Bone bertemu, mereka berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh kerajaan masing-masing.

Bangkeng Buki' secara harfiah berarti kaki bukit yang merupakan barisan lereng bukit dari Gunung Lompobattang diklaim oleh pihak Kerajaan Gowa sebagai batas wilayah kekuasaannya mulai dari Kindang sampai ke wilayah bagian timur. Namun pihak Kerajaan Bone berkeras memertahankan Bangkeng Buki' sebagai wilayah kekuasaannya mulai dari barat sampai ke selatan.

Berawal dari peristiwa tersebut kemudian tercetuslah kalimat dalam bahasa Bugis "Bulu'kumupa" yang kemudian pada tingkatan dialek tertentu mengalami perubahan proses bunyi menjadi "Bulukumba". Konon sejak itulah nama Bulukumba mulai ada dan hingga saat ini resmi menjadi sebuah kabupaten.

Paradigma kesejarahan, kebudayaan dan keagamaan memberikan nuansa moralitas dalam sistem pemerintahan yang pada tatanan tertentu menjadi etika bagi struktur kehidupan masyarakat melalui satu prinsip "Mali’ siparappe, Tallang sipahua."
Ungkapan yang mencerminkan perpaduan dari dua dialek bahasa Bugis – Konjo tersebut merupakan gambaran sikap batin masyarakat Bulukumba untuk mengemban amanat persatuan di dalam mewujudkan keselamatan bersama demi terciptanya tujuan pembangunan lahir dan batin, material dan spiritual, dunia dan akhirat.

Nuansa moralitas ini pula yang mendasari lahirnya slogan pembangunan "Bulukumba Berlayar" yang mulai disosialisasikan pada bulan September 1994 dan disepakati penggunaannya pada tahun 1996. Konsepsi "Berlayar" sebagai moral pembangunan lahir batin mengandung filosofi yang cukup dalam serta memiliki kaitan kesejarahan, kebudayaan dan keagamaan dengan masyarakat Bulukumba.

"Berlayar", merupakan sebuah akronim dari kalimat kausalitas yang berbunyi "Bersih Lingkungan, Alam Yang Ramah". Filosofi yang terkandung dalam slogan tersebut dilihat dari tiga sisi pijakan, yaitu sejarah, kebudayaan dan keagamaan.

Bulukumba lahir dari suatu proses perjuangan panjang yang mengorbankan harta, darah dan nyawa. Perlawanan rakyat Bulukumba terhadap kolonial Belanda dan Jepang menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945 diawali dengan terbentuknya "barisan merah putih" dan "laskar brigade pemberontakan Bulukumba angkatan rakyat". Organisasi yang terkenal dalam sejarah perjuangan ini, melahirkan pejuang yang berani mati menerjang gelombang dan badai untuk merebut cita–cita kemerdekaan sebagai wujud tuntutan hak asasi manusia dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Dari sisi budaya, Bulukumba telah tampil menjadi sebuah "legenda modern" dalam kancah percaturan kebudayaan nasional, melalui industri budaya dalam bentuk perahu, baik itu perahu jenis pinisi, padewakkang, lambo, pajala, maupun jenis lepa–lepa yang telah berhasil mencuatkan nama Bulukumba di dunia internasional. Kata layar memiliki pemahaman terhadap adanya subjek yang bernama perahu sebagai suatu refleksi kreativitas masyarakat Bulukumba.

Masyarakat Bulukumba telah bersentuhan dengan ajaran agama Islam sejak awal abad ke–17 Masehi yang diperkirakan tahun 1605 M. Ajaran agama Islam ini dibawa oleh tiga ulama besar (waliyullah) dari Pulau Sumatra yang masing–masing bergelar Dato Tiro (Bulukumba), Dato Ribandang (Makassar) dan Dato Pattimang (Luwu). Ajaran agama Islam yang berintikan tasawwuf ini menumbuhkan kesadaran religius bagi penganutnya dan menggerakkan sikap keyakinan mereka untuk berlaku zuhud, suci lahir batin, selamat dunia dan akhirat dalam kerangka tauhid "appasewang" (meng-Esa-kan Allah SWT).

Bukan hanya dari sisi budaya dan adat loh, namun Bulukumba juga memiliki potensi wisata yang sangat banyak sehingga wajib untuk di kunjungi jika berada di tanah Sul-Sel. Penasaran, Yuk kita intip beberapa tempat menarik di Bulukumba.

Tanjung Bira
Jl. Bontobahari, Bira, Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Tanjung Bira terletak sekitar 40 km dari Kota Bulukumba atau 200 km dari Kota Makassar dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam. Tak hanya dikenal dengan pesona keindahan pantainya saja, namun Tanjung Bira juga merupakan rumah pembuatan kapal tradisional khas Sulawesi Selatan sehingga pengunjung dapat melihat proses pembuatan kapal tersebut di pinggiran pantai.

Selain itu, ada banyak hal lain yang dapat teman-teman lakukan di kawasan wisata ini, salah satunya yaitu snorkeling maupun diving, sembari menikmati keindahan bawah lautnya dibeberapa spot yang ada di pantai ini. Spot di kisaran Pulau Liukang Loe, yakni sebuah pulau kecil yang terletak di seberang barat Tanjung Bira merupakan salah satu spot terbaik. Pengunjung juga dapat menghabiskan waktu libur di Tanjung Bira dengan sekedar berjemur di bawah matahari sambil menikmati segarnya angin yang berhembus serta menyaksikan pesona matahari terbit dan terbenam.

Panrang Luhu
Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Panrang Luhu dalam bahasa setempat berarti pekuburan orang Luwu. Terlepas dari namanya yang sedikit seram, destinasi ini menawarkan nuansa alami yang sungguh memanjakan mata. Pohon kelapa berjejer cantik di kawasan pesisir. Suasana sekitar terasa syahdu, lantaran masih jarang dikunjungi wisatawan.

Selain hamparan pasirnya yang memikat, Panrang Luhu juga merupakan tempat tepat untuk menikmati panorama matahari terbit. Pandangan Teman Traveler bakal langsung mengarah ke indahnya Sang Mentari, tanpa terhalang apapun. Sungguh pas untuk menghilangkan stress karena pekerjaan atau kegalauan karena dikasih, dijamin bakal move on seketika hehe.

Pantai Pusahelu
Darubiah, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Pantai Pusahelu berada di Desa Darubiah Kecamatan Bonto Bahari. Pantai yang terletak di belakang pantai Bara ini belum terlalu banyak diketahui keberadaannya. Sehingga pantai indah ini terkesan masih sepi ketika dikunjungi. Kawasan Pantai Pusahelu terdiri dari pantai dengan sebagian besar adalah pantai dengan pinggir karang.

Pantainya berupa pantai cekungan yang tidak terlalu lebar, panjang pantainya mungkin hanya belasan meter, karena hanya berada diantara karang yang menjorok masuk kepinggir laut. Pantai ini sangat sepi. Jika air laut sangat surut, garis pantai Pantai Pusahelu sedikit agak lebih panjang. Salah satu sensasi main ke pantai ini adalah duduk di atas batu karang sambil menikmati gradasi warna antara putih, hijau tosca dan biru laut.

Pantai Ujung Tiro
Pantai Ujung Tiro atau biasa juga disebut Pantai Ujung merupakan pantai yang memiliki pemandangan yang sangat eksotis. Hamparan batu karang disekitar pantai dan tebing batu sebagai spotnya membuat pantai ini banyak digemari bukan hanya wisatawan lokal namun juga mancanegara. Pantai ini terletak di Dusun Samboang, Kel.Ekatiro, Kecamatan Bontotiro atau berbatasan langsung dengan Pantai Samboang.

Pantai Ujung lebih mirip Apparalang yakni hamparan laut dengan tebing di sekelilingnya.Disini terdapat semacam pulau kecil di tengah-tengah, yang bisa memanjakan mata traveler untuk memandang sekitaran. Dari tempat tersebut traveler bisa melihat langsung jernihnya air, serta kondisi karang beserta biota laut di bawahnya.

Pantai Bara
Jl. Bara, Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Pantai Bara merupakan sebuah pantai yang terletak di ujung kanan pantai Bira, boleh dikatakan pantai ini masih satu kompleks dengan pantai Bira. Namun Pantai Bara tak kalah indahnya jika dibandingkan dengan pantai Bira, pasirnya yang putih dan lembut serta birunya laut akan memanjakan mata dan hati. Kebersihan pantai ini cukup terjaga, hanya rumput-rumput laut kering kecoklatan yang terhampar di beberapa tempat di bibir pantai.

Jejeran pohon kelapa menyambut di pintu masuk plus sejumlah warung yang menjajakan makanan dan minuman serta souvenir. Untuk yang hobby camping, juga disediakan lokasi camping ground. Selain masih sepi, spot di bagian ini memang terbilang lebih menarik. Dinding dan batu karang lepas dipadu hijaunya daun serta birunya air laut menjadikannya terasa sangat eksotis.

Pantai Mandala Ria
Pantai Mandala Ria di Desa Ara, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan memang tak setenar Pantai Bira. Padahal bentangan pasir putih dan pusatnya pembuat kapal pinisi di Butta Panritalopi, ada di Desa Ara.

Uniknya lagi karena penamaan Pantai Mandala Ria, erat kaitannya dengan kisah sejarah Soekarno yang membentuk Komando Mandala, dan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando Operasi Militer. Tugas komando operasi militer (Opmil) Mandala saat itu merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi untuk menggabungkan Irian Barat yang kini Papua bagian barat masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pantai Kasuso
Pantai Kasuso pastinya masih asing di telinga banyak orang. Pantai yang terletak di dusun Kasuso, kecamatan Bontobahari, kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Boleh dikata pantai ini menjadi salah satu surga tersembunyi bagi para wisatawan. Seperti pantai lain di Bulukumba pada umumnya, pantai ini memiliki ombak yang relatif tenang.

Pantai Kasuso tak sepopuler pantai lain dan terbilang jauh dari keramaian namun pantai ini memiliki keindahan yang tak kalah kerennya. Hamparan pasir putih dan tebing karang yang hijau membuat pantai ini sangat menawan serta dengan ditumbuhinya ragam pohon yang tumbuh subur di atasnya.

Pantai Kasuso memberikan alam yang begitu indah dengan lautan yang membiru serta pantai yang berpasir putih. Di pantai ini pula teman-teman dapat menemukan batu besar di pinggiran pantai layaknya pulau kecil. Batu tersebut dinamakan batu taha. Batu taha inilah yang kerap kali dijadikan sebagai latar dalam setiap dokumentasi di pantai ini.

Selain punya batu besar di tepi pantai, mayoritas penduduknya didominasi oleh perempuan. Pantai Kasuso biasa disebut juga kampung perempuan karena banyak ditinggal suami ketika berlayar mencari ikan.

Pantai Samboang
Pantai Samboang berasal dari kata Sembo, yang dalam bahasa Konjo orang Bonto Tiro berarti bersenang-senang. Jadi Pantai Samboang adalah salah satu pantai untuk bersenang-senang. Panorama yang indah dan lekukan bibir pantai yang landai, serta terumbu karang yang tak jauh dari pantai, menjadikan Samboang berbeda dengan objek wisata pantai lainnya. Di samping itu, lambaian sejumlah pepohonan kelapa bila diterpa angin ikut memperindah pemandangan areal wisata yang satu ini.

Saat memasuki kawasan pantai teman-teman akan kagum dengan pasir putih yang begitu luas sejauh mata memandang, di sebelah kanan maupun kiri. Selain itu, temna-teman dapat pula berlarian diatas pasir hingga 50 meter ke arah lautan lepas. Di tempat ini pula terdapat pulau kecil yang telah dihubungkan dengan titian sepanjang 20 meter. Tempat ini merupakan spot menarik bagi wisatawan yang ingin menyalurkan hobbynya, misalnya berenang, snorkling ataupun memancing.

Pantai Lemo-Lemo
Tanah Lemo, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Daya pikat pantai ini bukan hanya pada pasir putih dan air laut yang masih jernih, tetapi juga beberapa gugusan batu karang yang menyembul ke permukaan air yang masih alami. Keberadaanya yang masih alami dan cenderung belum tersentuh oleh pembangunan membuat daerah yang bertanah karang itu belum banyak dilirik para wisatawan.

Berbeda dengan Pantai Pasir Putih Tanjung Bira yang hampir tak ada pepohonan, Pantai Lemo-lemo menyuguhkan suasana yang sejuk. Hutan dengan tumbuhan heterogen yang berada di sekitar pantai, membuat suasana di pantai ini terasa sejuk meski sinar matahari menyengat.

Pantai Merpati
Terang-Terang, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Pantai Merpati merupakan salah satu pantai yang terletak di pinggiran kota. Jaraknya yang dekat dari kota membuat pantai ini kerap kali dikunjungi oleh para wisatawan yang datang untuk sekedar melepas lelah di sore hari ataupun dihari libur. Meskipun tak seindah pantai bira ataupun Bara namun pantai ini cukup nyaman untuk dijadikan sebagai tempat nyantai di sore hari. Di pantai ini juga kita dapat menyaksikan deretan perahu-perahu nelayan di sepinggiran bibir pantai.

Pulau Kambing
Pulau Kambing, Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan merupakan surga bagi para pecinta kegiatan diving dan snorkeling. Pulau ini berjarak sekitar 20 menit dari Pantai Tanjung Bira. Pulau ini memiliki keindahan bawah laut yang selalu menjadi idola dan idaman bagi para pecinta dan penikmat bawah laut. Belum lagi air lautnya pun yang jernih bagaikan kristal.

Pulau ini sungguh istimewa, selain pemandangan bawah laut yang indah, tebing-tebing terjal pada dinding pulau membuat pulau ini tampak eksotik. Pengunjung Pulau ini juga dapat menikmati keindahan panoramanya dengan menaiki bukit tebing terjal tersebut. Pengunjung akan melihat sisi keindahan yang berbeda ketika berada di atas tebing ini.

Lokasi snorkeling biasanya berada di dekat tebing dengan kedalaman yang tidak terlalu dalam. Pemandangan di bawah memang luar biasa, lebih berwarna-warni tetapi arusnya lumayan kencang sehingga seringkali penyelam terombang-ambing di permukaan.

Jadi pengunjung harus lebih berhati-hati ketika snorkeling di spot ini karena konon katanya, di dekat perairan Pulau Kambing ini ada semacam air terjun di bawah laut yang menyebabkan arus dalam yang lumayan kuat, sehingga penyelam harus lebih berhati-hati karena arus yang deras. Buat para penyelam, Pulau Kambing merupakan lokasi yang menjadi favorit, di sini ada beberapa dive spot dan sepertinya daerah ini merupakan daerah hiu dan tidak akan menutup kemungkinan penyelam akan menjumpai hiu-hiu di sekitar perairan ini.

Pulau Liukang Loe

Pulau Liukang Loe bukan hanya sekedar nama biasa, akan tetapi nama ini memiliki arti tersendiri, karena liukang loe merupakan bahasa yang berasal dari bahasa konjo (salah satu bahasa yang digunakan di kabupaten bulukumba) yang berarti Liu-Liukang berarti Kayu Hitam, dan Loe berarti banyak dan jika disatukan Liukang Loe berarti kayu hitam yang banyak. Nama ini bukan asal diberikan namun memang di pulau ini banyak terdapat kayu hitam, sama dengan namanya.

Pulau ini terkenal memiliki pasir putih yang bersih, halus dan lembut, pulau ini juga dikenal sebagai pulau batu karena pulau ini di tutupi gugusan batu karang yang pusatnya berada di tengah pulau. Tidak hanya itu seperti yang saya jelaskan di atas pulau ini adalah surganya para pecinta snorkeling karena pulau ini memiliki keindahan/pemandangan alam bawah laut yang sangat-sangat indah. jika anda tidak percaya sebaiknya anda langsung datang saja kesini dan menikmati keindahan alam bawah lautnya dengan kegiatan snorkeling.

Selain snorkeling di pulau ini terdapat dermaga yang sangat bagus untuk dijadikan spot berfoto, karena air lautnya yang tenang dan dermaganya yang sangat indah. Dermaga ini juga memiliki fungsi lain selain bersandarnya kapal-kapal, dermaga ini biasa digunakan sebagai tempat menjemur makanan oleh masyarakat sekitar.

Tebing Apparalang Loe

Tebing Apparalang Bulukumba terletak di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Apparalang ini memiliki panorama pantai yang sangat indah dengan tebing-tebing yang curam dan batuan karang, sehingga dijuluki Raja Ampat versi Bulukumba.

Udara yang sejuk dan suasana yang tenang akan membuat teman-teman serasa di pantai pribadi karena memang Pantai Apparalang ini tak seramai dan sepopuler Tanjung Bira, namun hal itulah yang biasanya dicari para wisatawan yang menginginkan ketenangan saat berlibur maupun menginginkan berwisata di tempat yang tak mainstream.

Selain itu, di pantai ini teman-teman juga dapat melihat keindahan pantai di atas tebing sambil menikmati sejuknya angin yang berhembus. Teman-teman pun bisa melihat deburan ombak yang menghantam karang dan tebing atau merasakan jernihnya air pantai dengan turun langsung ke bawah tebing menggunakan anak tangga dari kayu yang sudah disediakan. Biasanya di sini juga sering dijadikan tempat memancing bagi penduduk lokal.

Permandian Alam Limbua
Permandian Limbua merupakan salahsatu obyek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan, permandian yang terletak satu kilo dari Makam Datu Tiro ini juga berada diantara hutan yang rindang.

Tak hanya itu permandian Limbua menyatu dengan laut dan hanya dipisahkan oleh pohon kelapa. Air tawar dipermandian itu larut bersama dengan air laut, sehingga warga mempercayai kolam tersebut dapat menyembuhkan penyakit.

Tidak hanya itu, warga mempercayai jika kesaktian Dato Tiro, juga menyatu dalam permandian tersebut sehingga muncul anggapan bahwa dengan mandi dalam lokasi pemandian ini diyakini dapat menghilangkan semua penyakit kulit yang ada.

Selain keindahannya ada juga yang menarik berupa keberadaan sumur yang arah aliran airnya memanjang sampai ke laut yang berada di desa Hila-Hila, Kecamatan Bonto Tiro, permandia Limbua ini biasa dikunjungi setiap akhir pekan oleh masyarakat sekitar maupun wisatawan. Keunikan dari tempat ini ialah lokasinya yang berada di sekitar hutan, dan berhadapan langsung dengan Pantai Samboang.

Alika Waterpark
Alika waterpark merupakan permandian buatan yang terletak di Palampang, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Permandian ini menyediakan dua buah kolam, satu kolam untuk orang dewasa dengan kedalaman berbeda-beda, dari pinggir kanan sedalam 150 Sentimeter, tengah 170 sentimeter, dan paling ujung kiri sedalam 250 Sentimeter.

Sedangkan di kolam anak-anak kedalamannya sekisar 50 sentimeter, sehingga pengunjung anak-anak yang diperbolehkan, minimal berumur 2 tahun, dan harus didampingi oleh orang tua atau kerabatnya. Pengunjung juga bakal dipandu oleh pekerjanya, memperlihatkan lokasi yang aman bagi perenang pemula, dan anak-anak. Selain kolam, permandian inijuga menyediakan tempat meluncur untuk sekedar menguji adrenalin.

Bakung-Bakung Sunrise
Bakung-bankung View Sunrise terletak di Dusun Bakung-bakung Desa Lembanna, Kecamatan Bontobahari atau sekitar 3 km dari Tebing Apparalang. Destinasi yang murni dikembangkan oleh pemuda Desa Lembanna ini menambah daerah tujuan di Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba.

Sesuai dengan namanya, Bakung-bankung View Sunrise menawarkan spot terbaik untuk menikmati keindahan matahari terbit dari atas ketinggian. Bakung-bankung View Sunrise memiliki keunggulan tersendiri. Dimana anda bisa menikmati datangnya pagi sekaligus disuguhi pemandangan hamparan rimbun pohon hijau nan asri.

Perpaduan warna orange (matahari terbit), biru (hamparan laut) dan hijau (hamparan hutan) menambah sensasi saat berada di Bakung-bankung View Sunrise. Angin segar ketinggiaan juga memberikan hal yang berbeda ketika saat menikamati matahari terbit di pantai.

Disini juga telah tersedia sebuah tempat duduk yang dibangun pemuda setempat. Desainnya sangat unik, sehingga menambah sudut pandang anda untuk mengambil gambar. Bukan hanya pemandangan matahari terbit yang anda bisa nikmati. Tersedia juga jogging track, lapangan volly dan takraw untuk berolahraga di pagi hari maupun sore hari.

Puncak Pua Janggo
Puncak Pua Janggo merupakan puncak tertinggi di kawasan Tanjung Bira. Tak heran jika tempat ini sering jadi favorit anak muda untuk ber-selfie atau berfoto narsis. Panorama yang disuguhkan memang luar biasa indah dan memesona. Pepohonan hijau, perairan berwarna biru cerah, dan belaian angin sepoi-sepoi akan membuat rasa jenuh menjadi hilang hilang. Dari puncak ini teman-teman dapat pula menyaksikan keindahan garis pantai bira dan jejeran kapal-kapal veri dan kapal nelayan di pelabuhan Bira.

Pantai Marumasa
Pantai Marumasa merupakan sebuahpantai yang terletak di Darubiah, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pantai ini menyuguhkan pemandangan yang sangat eksotik dengan keelokan pantainya terlihat dengan hamparan pasir putih di atas pantai yang luas dan memanjang. Udaranya pun sejuk dan teduh dengan keberadaan jejeran pepohonan kelapa yang tumbuh subur nan lebat. Kawasan Pantai Marumasa kian eksotik karena memiliki gugusan tebing cadas yang asyik dijadikan lokasi swafoto para pengunjung. Beberapa spot swafoto pun bisa dijumpai di atas tebing tersebut dengan latar lautan lepas di Teluk Bone.

Gua Passea
Situs purbakala Gua Passea ini terletak di Desa Lembanna kecamatan Bonto Bahari sekitar 150 km dari kota makassar. Gua yang terletak di tengah kebun warga yang ditumbuhi semak belukar ini tersembunyi dari mereka yang baru pertama kali akan ke lokasi, satu petunjuk besar akan letak gua ini adalah pohon besar yang tumbuh menjulang tinggi ke langit dan pada batangnya mulut gua berada.

Gua Passea dalam bahasa lokal yang memiliki arti “Penderitaan” ini merupakan Gua yang memiliki nilai sejarah yang sangat panjang bagi warga desa Ara. Menurut budayawan Drs.Muhannis yang lahir di Desa letak Gua tersebut mengatakan jika Gua Passea telah dihuni sejak abad 4 atau 8 abad SM.

Gua yang memiliki panjang 59 meter ini bertipe gua horisotal dengan lantai gua yang cukup rata dengan stalagtit dan stalagmit yang masih terus bertumbuh, tapi disayangkan karena tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan kurangnya perhatian sehingga banyak stalagtit dan stalagmit yang rusak parah. Jika berpacuh pada pertumbuhan rata-rata stalagtit 0,13 mm setiap tahunnya maka bisa dipastikan keberadaan gua tersebut sudah ada sejak ratusan ribuh tahun yang lalu dengan adanya stalagtit dan stalagmit yang telah menyatu dan membentuk pilar gua yang cukup tinggi dan besar.

Di dalam gua passea terdapat tiga buah peti mati yang terbuat dari kayu dengan panjang peti mati sekitar 2 meter dan lebar sekitar 0,5 meter dan tergeletak begitu saja di lantai gua dengan kerangka manusia yang sudah cerai berai, sebelumnya Peti mati tersebut jumlahnya puluhan dan tergantung di langit-langit gua, namun gua Passea tidak luput dari pengerusakan banyak situs-situs di sulawesi oleh gerombolan DI/TII pada tahun 1960-an. Selain itu, peti mati ini jumlahnya tersisa tiga buah karena orang-orang yang tidak bertanggung jawab menjualnya kepada kolektor benda-benda prasejarah, dari salah satu situs mengatakan jika peti mati ini di jual kepada warga asing yang berkunjung ke Bulukumba. Selain itu kita akan menemukan pecahan gerabah dan penggalian yang tersebar hampir di setiap sudut gua.

Salah satu hal yang sangat menarik dari gua passea adalah adanya benang merah peradaban ribuan tahun yang telah hilang dan terlupakan di selatan Makassar ini dengan yang ada di Toraja yang tidak akan kita temukan di Kabupaten lain yang ada di Sulawesi. Yang mana menurut analisa terdapat kesamaan yang signifikan antara tata cara pemakaman jenasah dan bentuk peti mati yang ada di Toraja. Hal ini menandakan jikalau kebudayaan yang ada di Bulukumba dan Toraja dulunya sama dan tidak menutup kemungkinan antara Kabupaten Bulukumba dengan Kabupaten Toraja masih terdapat gua yang serupa yang mungkin belum ditemukan atau disembunyikan oleh warga setempat dikarenakan sifat masyarakat Sulawesi selatan yang biasanya menyembunyikan sesuatu hal yang mereka sakralkan.

Kebun Karet

Pemandangan hijau deretan pepohonan tanaman karet ternyata tidak kalah indah dengan deretan tanaman pohon pinus dan cemara. Kebun karet ini milik PT Lonsum yang berada di Desa Tibona, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dengan jarak sekitar 40 km dari Ibukota Kabupaten Bulukumba dan 150 km dari Kota Makassar dengan perjalanan darat, untuk sampai ke sana memakan waktu kurang lebih 4 jam.

Bulukumba sendiri memiliki tanaman pohon karet yang tersebar di beberapa Kecamatan yaitu Kecamatan Herlang, Kajang, Bulukumpa, dan Ujungloe. Walaupun kebun karet di Kabupaten Bulukumba fungsinya bukan untuk kawasan wisata, namun tidak sedikit yang mengabadikan momen dengan berfoto bahkan prawedding. Kita bebas berfoto di sekitar perkebunan karet tanpa dipungut biaya sepeserpun.

Pada kawasan kebun karet ini, selain dapat menikmati keindahan pohon karet yang berbaris rapi, akan banyak dijumpai bangunan peninggalan sejak jaman penjajahan Belanda seperti rumah-rumah milik bos kebun karet atau kediaman khusus untuk pimpinan atau manajer perusahaan karet. Bangunan peninggalan jaman Belanda itu bisa ditandai dengan area taman yang sangat luas.

Kita juga dapat melihat beberapa tempat penampungan getah karet, sesaat setelah ketika cairan getah karet dikumpulkan oleh para petani karet yang juga merupakan warga lokal yang kemudian nantinya akan diangkut oleh kendaraan khusus pengangkut cairan getah karet yang akan diolah di sebuah pabrik pengolahan karet mentah yang berada di Desa Allu, Kecamatan Ujung Loe.

Yang tidak kalah menarik, terdapat sebuah gerbong kereta pengangkut karet peninggalan jaman Belanda sejak tahun 1918 yang sudah tidak digunakan lagi dan sekarang menjadi pajangan di dekat lapangan tenis yang tidak jauh dari kediaman pimpinan perusahaan karet. Oleh para pemuda sekitar, gerbong tersebut sering dijadikan spot untuk berfoto. Sekedar tambahan informasi, 1918 merupakan tahun di mana perkebunan karet di daerah ini pertama kali dibuka.

Mesjid Islamic Center

Bintarore, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Masjid Islamic Center Dato Tiro telah selesai dibangun pada tanggal 28 Juni 2014 kemudian secara langsung diresmikan oleh Bupati Bulukumba. Dalam acara peresmian masjid yang begitu megah tersebut dilakukan pada malam hari karena pada saat itu para muslim begitu antusias dan sangat banyak memenuhi sekaligus mengikuti shalat tarawih berjamaah. Shalat tarawih itu pula merupakan yang pertama kali dilaksanakan di Masjid ini yang dihadiri oleh sekitar lima ribu jamaah.

Selain arsitektur serta bangunan amsjidnya yang begitu megah dan juga menarik, bangunan masjid Islamic Center Dato Tiro juga memiliki suasana yang begitu adem dan sejuk. Karena lantai pada masjid tersebut berbahan lantai marmer yang sangat dingin ditambah dengan hembusan angin yang begitu menyebarkan berasal dari jendela besar yang berada di bagian kanan kiri masjid.

Dilihat dari segi bangunannya, masjid Islamic Center Dato Tiro memang terkesan begitu megah dengan desain yang begitu modern. Dari kejauhan saja bangunan masjid tersebut begitu menarik dan menyita perhatian siapapun yang melihatnya. Terutama pada bagian kubah masjid yang begitu besar ditambah dengan warna yang begitu terang dan mencolok.

Kubah masjid tersebut berwarna biru terang, biru muda serta ada juga tambahan warna putih di setiap garis geometrisnya. Secara keseluruhan bangunan masjid tersebut didominasi warna kuning dan biru yang begitu terang dan menarik. Sebelum memasukinya, para jamaah dan pengunjung akan melewati tangga dan setelah mengetahui bagian dalam masjid pun kemegahannya terasa begitu kental dengan berbagai hiasan kaligrafi serta ornamen yang begitu mempesona.

Taman Cekkeng
Taman Cekkeng Nursery yang terletak di samping pasar tradisional Cekkeng, kota Bulukumba ramai dikunjungi warga.Taman ini terletak di Jl Yos Sudarso, Kelurahan Terang-terang, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Selain tersedia taman untuk melepas lelah taman ini juga dilengkapi dengan taman baca dan arena bermain anak.

Kahayya Hills
Lurayya, Desa Kahayya, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Kahayya merupakan daerah perbukitan atau anak gunung Bawakaraeng yang berbatasan langsung dengan dua Kabupaten yakni Sinjai dan Bantaeng. Berbeda dengan daerah perbukitan umumnya, Kahayya semakin memukau karena dibentengi oleh gugusan gunung dan bukit, hulu sungai balantieng, dan suhu udara yang menyejukkan.







Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.