Akbarpost/Teman-teman kali ini penulis tidak akan bercerita tentang destinasi alam yang keren, namun melalui tulisan ini penulis akan mengajak teman-teman untuk mengintip salah satu bangunan bersejarah yang sekaligus menjadi saksi sejarah dan menyimpan banyak nilai-nilai budaya dan adat- istiadat di kota ini. Sebuah rumah trandisional yang berdiri kokoh diatas lahan seluas ½ hektar yang terletak di Jln. Latentitatta, Bone, Sulawesi Selatan.

Namun menurut pengakuan dari masyarakat, letak rumah saat ini bukanlah dilokasi awal didirikannya melainkan sudah tiga kali mengalami pemindahan lokasi. Selain itu, bangunan rumah ini pun bukan lagi bangunan awal, namun telah mengalami beberapa perubahan pada bagian-bagian tertentu. Hanya saja rumah ini masih tetap mirip dengan perawakan bangunan aslinya.

Namanya Bola Soba atau dalam bahasa bugis diartikan sebagai Rumah Persahabatan, rumah dengan panjang 39,45 meter ini terdiri dari empat bagian utama, yakni lego-lego (teras) sepanjang 5,60 meter, rumah induk 21 meter, lari-larian atau selasar penghubung rumah induk dengan bagian belakang 8,55 meter serta bagian belakang yang diperuntukkan sebagai ruang dapur 4,30 meter.
Rumah ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-30 bernama La Pawawoi Karaeng Sigeri sekitar tahun 1890. Mulanya, rumah ini hanya diperuntukkan sebagai kediaman raja. Kemudian berlanjut ditempati oleh putranya bernama Baso Pagilingi yang kemudian diangkat menjadi Petta Ponggawae yang berarti panglima perang.

Jika dilihat secara sepintas, rumah ini tidaklah seistimewa rumah adat pada umumnya yang memiliki banyak koleksi benda-benda peninggalan sejarah. Namun, hanya berupa rumah panggung tradisional ala masyarakat bugis. Tampilan disekitarnya pun hanya berupa gapura dan papan pengenal atau papan nama.
Jika teman-teman masuk di bagian dalam bangunan, tak ada benda-benda monumental atau benda bersejarah yang bisa menjadi saksi masa lalu keberadaan rumah ini, atau petunjuk yang bisa menjelaskan secara historis dari bangunan ini. yang ada di dalamnya hanya beberapa perlengkapan kesenian, seperti kostum tari dan gong. Wajar jika kedua benda ini tersedia karena rumah ini sering dijadikan tempat latihan oleh beberapa sanggar seni di kota ini.

Selain itu, di bagian ruangan yang lain terdapat bangkai meriam tua, potret Arung Pallakka, silsilah raja-raja Bone, serta beberapa benda-benda tertentu yang sengaja disimpan pengunjung sebagai bentuk melepas nazar.

Salah satu ciri dan keunikan dari rumah ini karena memiliki lima singkap atau sering disebut dalam bahasa bugis timpa’laja. Jumlah timpa’ laja ‘ atau singkap bukan tanpa alasan namun jumlah ini menetukan strata dari struktur kerajaan. Sehingga saat menjadi kediaman putra raja, jumlah singkap rumah ini dirubah menjadi empat. Dimana lima singkap diperuntukkan untuk raja dan empat singkap diperuntukkan untuk anak raja.
Seiring dengan ekspansi Belanda yang bermaksud menguasai nusantara, termasuk kerajaan Bone pada saat ini, maka Saoraja Petta Ponggawae ini pun jatuh ke tangan Belanda dan dijadikan sebagai markas tentara. Tahun 1912, difungsikan sebagai mes atau penginapan untuk menjamu tamu Belanda. Dari sinilah penamaan Bola Soba’ yang berarti rumah persahabatan.

Selain itu, rumah ini juga pernah difungsikan sebagai istana sementara Raja Bone pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31, La Mappanyukki padatahun 1931, menjadi markas Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS), menjadi asrama TNI pada tahun 1957 hingga kemudian dijadikan sebagai bangunan peninggalan purbakala.

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.