Dunia pendidikan kembali berduka atas insiden yang terjadi di SMA Negeri 1 Torjun, Kab. Sampan. Seorang siswa yang rela menganiaya gurunya hingga berujung fatal yang menyebabkan sang guru menghembuskan nafas terakhir di RS Soepomo Surabaya. Selamat jalan pak guru jasamu akan mengantarmu ke surga sebagai tempat yang layak bagimu. Amin...

Jangankan menganiaya sang guru, memotong pembicaraannya saja saat menjelaskan, kami tidak berani. Itulah jaman old dimana kami sangat menghargai dan menghormati guru sebagai orang tua kami yang patut kami jaga. Meskipun guru sering menghukum jika ada kesalahan namun tetap saja kami diam dan menggap bahwa semua itu adalah bagian dari proses pembelajaran. Belum lagi jika pulang ke rumah mengadu ke orang tua. Bukannya memberikan bantuan tapi terkadang malah tambah menyakitkan. Itulah orang tua masa lalu yang juga menganggap bahwa keputusan guru adalah mutlak karena kesalahan anaknya. Yah meskipun faktanya sesekali tidak seperti itu....

Sudahlah. Itu semua dilakukan guru kan semata-mata untuk kebaikan kita.......

Masih ingatkah kita saksi sejarah pendidikan kita. sebuah mistar kayu berukuran 1 meter berwarna coklat itu. Disamping digunakan oleh guru untuk menggaris saat pelajaran matematika, digunakan untuk menunjuk huruf disaat mengajar membaca dan mengenal huruf, serta jadi petunjuk untuk mengenal dan melihat dengan jelas kalimat yang tertulis dipapan hitam depan kelas. Mistar ini pun menjadi senjata bagi guru untuk menghukum dan memberi sanksi saat melakukan kesalahan dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan. betis dan jari sudah menjadi langganan bagi kami, apalagi yang paling berkesan ketika sudah dapat pukulan, malah kami yang berterima kasih. inilah bentuk penghargaan yang mestinya harus diwariskan kepada generasi kita. bukannya ikut mendukung untuk melakukan perlawan.

Rasa sakit yang kami dapat saat itu, tidak akan membuat kami kalap untuk dendam bahkan membecinya. Kami malah senang dengan masa-masa itu yang membuat kami terkadang kangen dengan sanksi dari mereka.
Inilah pengalaman terindah yang masih melekat hingga saat ini. Yang membuat kami terkadang tersenyum ketika mengingat masa itu. Masa dimana bapak budi dan ibu budi sering bertemu.

Berbeda dengan jaman now, jaman dimana semuanya serba modern, jaman dimana semua orang bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, jaman dimana pesan dari bapak dan ibunya bukan lagi titah yang mesti diikuti. Inilah bukti pergeseran zaman yang ikut menggerus akhlak generasi saat ini. Hal ini jika dibiarkan akan semakin memperkeruh akhlak generasi.

Meskipun pemerintah sudah berusaha yang terbaik dengan memunculkan pendidikan karakter. Namun, jika tidak dibarengi dengan kesadaran maka kebijakan apapun yang dibuat tak akan berpengaruh. Yang paling menggelitik lagi karena adanya regulasi yang tidak memperbolehkan menghukum anak dibawah umur. Aneh bukan....

Tapi sudahlah tak perlu mempermasalahakan itu, intinya mari kita sama-sama berusaha untuk mengembalikan zaman, dimana bapak dan ibu budi sering bertemu. Marilah bersama-sama menghargai guru kita sebagai orang tua kedua, meskipun bukan yang melahirkan kita tapi mengajari kita tentang indahnya pengetahuan dan luasnya alam semesta.

Sekali lagi turut berduka atas meninggalnya bapak guru. Terima kasih sudah menjadi bagian penting dari pendidikan di negeri ini.





Akhir-akhir ini dunia maya dihebohkan dengan hadirnya Dilan yang seakan membuat semuanya menjadi berat. Bahkan minum secangkir kopi pun sudah terasa berat. Maklumlah anak kos-kosan apalagi menjelang tanggal baru. Pasti semuanya serba berat. Dari zaman coto berubah jadi indomi rasa soto. Intinya semuanya terasa berat.

Setelah Dilan semuanya menjadi berat. Akhirnya yang kena batunya yha,, Pak Jokowi sampai-sampai dapat kartu kuning. Untung saja beliau dapat kartu kuning di akhir pertemuan, hingga sudah dapat dipastikan jika kartu merah tak mungkin kembali dikeluarkan oleh wasit.

Maaf cuman candaan. Makanya jangan terlalu serius bacanya. Mungkin semua teman sudah pada tahu jika semuanya karena Dilan. Padahal Dilan masih anak sekolahan loh, sudah bisa membuat dunia maya takluk dengan kelakuannya yang semua terasa berat. Hahahaha......Sebagai seorang mahasiswa sudah seharusnya tak boleh kalah dengan Dilan anak SMA yang karena kerinduannya semua terasa berat.

kerinduanlah yang begitu mendalam sehingga terasa berat, akhirnya pak jokowi dapat kartu kuning dari seorang mahasisiwa UI yang saat ini menjabat sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). saat memberikan sambutan dalam acara Dies Natalis UI ke 68 di Balairung UI, Depok, Jawa Barat.

Jika dalam pertandingan sepak bola kartu kuning dikeluarkan karena adanya satu pelanggaran yang dilakukan oleh seorang pemain yang dapat berakibat buruk terhadap pemain yang lain. Berbeda halnya dengan pak jokowi yang langsung mendapatkan 3 pelanggaran atau bahasa sederhananya yah bukan pelanggaran tapi hanya sekedar peringatan.
1. Terkait gizi buruk di Papua tepatnya di Kabupaten Azmatuntuk segera diselesaikan oleh pemerintah
2. PLT atau pejabat gubernur yang berasal dari perwira TNI/POLRI
3. Persoalan Permenristekdikti tentang organisasi mahasiswa yang mengancam kebebasan berorganisasi dan gerakan kritis mahasiswa.

Hal ini yang kemudian menjadi pro dan kontra atas apa yang sudah dilakukan oleh mahasiswa tersebut. Banyak kalangan yang mengecam tindakan tersebut sebagai sesuatu yang memalukan bagi institusi tetapi tidak sedikit pula yang mendukung aksi tersebut. Yah pro dan kontra itu hal biasa bergantung dari sudut pandang mana kita melihat dan menilai aksi tersebut.

Tapi meskipun ini merupakan sesuatu yang konyol bagi sebagian besar orang. Namun menurut saya ada dua poin yang harus diapresiasi dari aksi yang dilakukan oleh zaagit. Pertama, dari segi keberanian dalam mengungkapkan kegalauannya, melihat permasalahan di negeri yang yang cukup urgant untuk diselesaikan. Semoga yang dilakukan betul-betul dengan niat yang tulus untuk ikut andil membantu pemerintah menyelesaiakan persoalan di negeri ini. Bukan karena sesuatu yang mungkin saja menguntungkan pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab. Kedua, ada unsur kreatifitas dan inovasi yang diperlihatkan dengan merubah dari demontrasi secara langsung untuk mengeluarkan aspirasi dijalan, kini bergeser keruang tertutup menggunakan secarik kertas.

Kedua hal ini patut kita apresiasi. Karena keberanian dan kreatifitasnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa meskipun niatnya baik. Tetap saja, saya pun menganggap jika proses penyampaiannya tidak elegant yang mencerminkan sikap mahasiswa yang sesungguhnya. Ini persoalan kepala negara. yang tetap kita harus hargai dan hormati sebagai simbol dari negara kita. Apalagi harus melakukan aksi itu disaat beliau menyampaikan sambutan dalam forum yang cukup formal. Tidak sewajarnya aksi ini dilakukan pada saat itu, jika memang ingin menyampaikan aspirasi tersebut kenapa tidak menunggu hingga sambutan itu selesai. Ataukah cukup meminta bantuan panitia atau paspampres untuk menyampaiakan pesan tersebut. Apalagi menurut paparan dari juru bicara kepresidenan, ada forum tersendiri yang memang sudah disiapkan oleh presiden untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan mahasiswa. tapi karena aksi ini, akhirnya banyak dari mahasiswa tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaiakn aspirasinya secara langsung karena sudah terwakilkan oleh seorang mahasiswa yang cukup kreatif dan inovatif.

Sudahlah. Semua ini karena Dilan..... yang lahir tahun 1990....hahahaha....

Karena ini sudah terjadi, biarkan menjadi bahan renungan bagi kita semua sebagai mahasiswa. Seberat apapun kegalauan yang dirasakan, sepahit apapun kopi yang kita sedu, pikiran harus tetap sehat, positif, dan optimis. Jangan menghakimi pemerintah hanya karena melihat sisi kekurangannya tapi sesekali bandingkan dengan keberhasilan yang sudah dicapai. Jangan terbelenggu dengan kebencian yang kita miliki, tapi cobalah untuk merajut rasa cinta dan kasih sayang. Karena hanya dengan cara ini, kita bisa mewujudkan kebahagian untuk semua. Kita boleh kritis karena itulah jiwa mahasiswa yang sesungguhnya.

Hidup mahasiswa.....
Intinya jangan ikuti Dilan yang semuanya terasa berat........seperti ini kira-kira....
Tulisanya konyol yah, sudahlah.....anggap saja sebagai gurauan belaka yang tak bermakna....



Wah, pagi ini cerah meskipun nampak masih ada sisa-sisa hujan yang baru saja meluapkan kerinduannya ke bumi. 

Di temani sepatu kets merah putih, ku berlari-lari sedu mengelilingi lapangan hingga beberapa kali putaran. nampak disekitarku pun melakukan hal yang sama. Ada yang berlari, jalan, pus up, bersepeda dan ada pula yang menari.

Setelah berkeliling hingga beberapa putaran keringatku mulai bercucuran hingga tak terasa menetes membasahi sepatu merah putihku.

Ku akhiri dengan sit up dan lanjut untuk menyantap bubur ayam favorite. Sambil nyantap buburnya datang seorang calon gubernur dengan melempar senyum hangat dan sungguh bersahabat. Aku pun membalasnya dengan senyum yang sama sambil melanjutkan santap bubur ayam yang terasa nikmat apalagi jika di temani dengan segelas kopi pahit.
Hahaha....

Orang-orang disekelilingku mulai bangkit dan menghampiri sang calon untuk sekedar menyapa dan berjabat. Namun tetap saja saya menyantap nikmatnya bubur ayam yang ada di depanku. Aroma dan rasa bubur tak bisa tertandingi dengan bangkit, berjabat, dan berselfi bersama beliau.

Sambil duduk di meja di depanku semakin banyak yang berdatangan. Hingga beberapa wartawan pun mulai meliput duduk di samping sang calon. Tak begitu lama setelah buburnya habis diiringi dengan sang calon yang mulai menjauh saya pun meninggalkan meja kayu itu dan menghampiri si penjual untuk membayar dan lanjut untuk pulang ke rumah.

Beginilah kura-kura....

Penggantian kepala daerah ibarat memutuskan hubungan dan memulai dengan yang baru. Cie........cie...., Meskipun terasa fresh dan lebih wah tapi tetap saja keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Apalagi jika meninggalkan hanya karena harapan yang masih sebatas retorika. Inilah yang menjadi harapan rakyat pada umumnya untuk mendapatkan pemimpin yang baru agar dapat mengakomodir kehidupan sosial bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya.

Salah satu kepala daerah yang tak kunjung surut diliput media adalah gubernur jakarta yang hingga 100 hari kepemimpinannya masih saja menjadi topik hangat yang enak untuk diobrolkan. Kebijakannya menjadi angin segar bagi jakarta yang notabenenya sebagai ibukota negara. maka wajar jika terus menjadi sorotan media baik lokal maupun internasional.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh gubernur terpilih dan wakilnya cukup menyita banyak perhatian publik untuk berkomentar. Banyak yang kontra tapi tidak sedikit pula yang pro. Masih teringat disaat kebijakan pertama dikeluarkan diawal pemerintahannya dengan menutup Hotel Alexis sampai pada kebijakan akan adanya perubahan jalan mampang buncit menjadi jalan Dr.AH. Nasution.
Mungkin deskripsinya seperti ini. Dari Hotel Alexis menuju pulau reklamasi menggunakan motor lewat ke MH. Thamrin karena macet di Tanah Abang akhirnya beralih ke becak lewat jalan mampang buncit hingga ke balai kota. Seperti ini kira-kira......... ini sekedar opini loh....coba kita bahas satu-persatu.

Penutupan Hotel Alexis adalah langkah yang sangat tepat dilakukan oleh gubernur terpilih, karena jika benar. Tempat itu hanya akan menjadi lumbung maksiat yang bisa berpotensi terhadap rusaknya moral bangsa. Yah meskipun belakangan terkuak berita bahwa bukan menutup secara menyeluruh tapi hanya tidak memperpanjang izin operasi. Tapi meskipun seperti itu. Bagi saya ini sudah menjadi bagian dari adanya upaya perbaikan moral yang dilakukan oleh gubernur terpilih. Patut di apresiasi.
Kebijakan selanjutnya yakni, akan membatalkan izin reklamasi yang sebenarnya sudah terlaksana separuh jalan. Beberapa upaya sudah dilakukan oleh gubernur yakni melayangkan surat pembatalan HGB ke instansi terkait yang tidak bisa dikabulkan sampai pada tahap kementerian. Tapi lagi-lagi masih terus diperjuangkan oleh gubernur. Semoga bisa terwujud, namun konsekuensi dari keduanya pun pasti akan berakibat ke warga DKI Jakarta. Yah silahkan dipikir-pikir dulu konsekuensinya karena itu sudah separuh jalan. Jika berhenti maka warga DKI harus mengeluarkan gocek dalam-dalam untuk mengembalikan anggaran yang sudah dipakai oleh pihak pengembang.

Belum selesai kasus reklamasi muncul lagi adanya perubahan terhadap TGUPP yang mengalami peningkatan signifikan yang dari sebelumnya hanya 15 orang bertambah menjadi 75 orang yang sekaligus merubah regulasi aturan yang ada dengan menghilangkan istilah profesional dalamnya. Serta kebijakan rumah DP 0 rupiah yang nyatanya hanya bisa dimiliki oleh mereka yang berpenghasilan 4-7 juta keatas yang awalnya dari rumah tapak menjadi rumah lapis.

Belum lagi kebijakan di tanah abang yang memberikan ruang bagi PKL untuk berjualan di badan jalan, dikembalikannya becak untuk bisa beroperasi di ibukota sampai pada rencana perubahan nama jalan. Lagi-lagi semuanya dilakukan karena keberpihakan.

Dengan 100 harinya kepemimpinan mereka kebijakan sebelumnya menjadi cerminan kebijakan kedepan untuk lebih berhati-hati. Jangan sampai terkesan memaksakan karena status janji yang ingin dikabulkan atau dilakukan seakan tanpa analisis secara mendalam.

Jika gaya seperti ini terus diperankan oleh mereka. Maka tidak menutup kemungkinan masalah yang lebih besar akan muncul dikemudian hari. Yang nyatanya jelas akan merugikan berbagai pihak terutama warga Jakarta pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya. Jakarta menjadi episentrum dunia untuk melihat indonesia secara menyeluruh sedikit saja salah dalam mengambil kebijakan bisa berdampak terhadap kewibawaan sang saka merah putih.

Saya tidak menyalahkan gubernur sekarang dengan membandingkan kerja dan kinerja dengan gubernur sebelumnya. namun saya hanya berharap agar kiranya gubernur sekarang bisa lebih bijak dalam mengeluarkan kebijakan tanpa harus memicu adanya konflik yang lebih besar.

Begitulah kira-kira.......



Tak ada aroma kopi pait pagi ini. Mungkin karena belum punya istri yang bisa menghidangkan yah. Hari ini saya kembali menulis tapi tidak tau harus mulai darimana. Kosakata dan kalimat yang ku punya sudah mulai tergerus oleh kemalasan untuk membaca. Maklumlah saya bukan Klaim Howard Berg seorang pembaca tercepat yang mampu membaca 25.000 kata dalam satu menit. Kalau saya jangankan 25.000 kata 100 kata saja permenit susah. Tapi kali ini saya tidak akan membahas tentang kemampuan membaca tapi lebih fokus ke persoalan yang dihadapi negeri in. Sok tau sedikit tidak apalah yang jelas tidak sok kenal.....hahahaha.

Jangan terlalu fokus membacanya, lebih baik sambil minum kopi pait biar cair. Begitu banyak masalah yang dihadapi negeri ini. Mulai dari persoalan korupsi yang tak pernah surut meskipun sudah banyak yang berada dibalik jeruji besi sambil menikmati kehidupan rasa penyesalan. Tapi sudahlah kasus korupsi sudah menjadi budaya. Entah sampai kapan budaya itu bisa hilang, selama mereka yang duduk disinggasana adalah orang-orang serakah maka jangan pernah berharap korupsi akan hilang di bumi pertiwi.

Yang menarik saat ini menjadikan semrautnya negeri ini yakni penyalahgunaan sosial media untuk membullying atau menghina. Persoalan ini yang sulit dibendung meskipun telah diganjar dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 atau sering disebut sebagai UU ITE tapi tetap saja pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab tak pernah takut dan kapok.

Pertanyaannya kemudian, sebenarnya apa yang membuat persoalan di negeri ini tak pernah usai. Jangan terlalu sibuk membaca sekali-kali luangkan waktu untuk menyerumput kopi pait yang ada disampingmu.

Saya melihat ada ketidakdewasaan kita dalam menghadapi kehidupan, mereka cenderung berprilaku seperti anak kecil yang mesti harus diperingatkan, harus disuap. (2)Persoalan selanjutnya hilangnya toleransi beragama yang tergerus oleh kepentingan politik semata. Menjadikan isu agama sebagai trending terhangat untuk mengganjal kandidat yang lain, menjadikan ras dan etnis sebagai alat untuk menjatuhkan orang lain. Padahal jelas konstitusi mengakui adanya keberagaman suku, etnis, dan agama di negeri ini yang diharapkan tetap hidup rukun dan damai. (3)Hilangnya kepercayaan kepada seorang pemimpin, karena trauma masalalu memiliki pemimpin yang tidak amanah (4) terlalu banyak orang cerdas yang tidak tau diri, mampu mengritik tapi tak bisa memberi solusi, (5) hilangnya etika untuk saling menghargai. Maaf ini cuman opini pribadi yah........

Mungkin saja kamunya punya persepsi yang berbeda. Tapi intinya kita saudara apapun bedanya tetap adalah saudara......hahahaha

Tak ada kopi yang bisa diserumput pagi ini. Karena memang sih saya bukan pecinta kopi. Segelas air putih sudah cukup untuk mengobati dahaga setelah lelap disepanjang malam. setelah melakukan aktifitas rutin. rasa ngantuk masih membujuk sehingga ku kembali membaringkan badan di atas kasur yang cukup empuk. Mengambil gedget untuk mengelabuhi rasa ngantuk agar tidak terus membujuk. Ternyata pagi ini banyak pesan yang masuk. Baik melalui pesan pribadi maupun pesan melalui gorup. Meskipun yang diharapkan sih pesan dari beliau, sang pujaan hati.........jangan baper...... sebagai penyemangat di hari ini. Sayang pesannya telat masuk dari seperti hari-hari biasanya.

Ada yang menarik tema pesan pagi ini. Teman-teman pada memperdebatkan kebijakan keminfo tentang pemberlakuan registerasi ulang kartu prabayar untuk menghindari penyalagunaan. Saya kira langkah yang sangat tepat dari keminfo untuk meredam terjadinya tindakpenyalahgunaan kartu yang akhir-akhir ini ikut meresahkan bangsa. Terlalu banyak penipuan, tindakan terorisme, serta dampak lain yang ditimbulkan dari kesemrautan sistem yang ada.

Ada satu pesan yang cukup menyita perhatian saya. Ketika seorang teman membagikan sebuah informasi yang memuat propoganda akan kebijakan ini. Pesan yang berpotensi memecah belah bangsa ini dan memang sengaja disebar untuk mempropokasi kaum dangkal kritis untuk ikut menyalahkan kebijakan tersebut. ”

Assalamu Alaikum...
Teman-teman yang sudah terlanjur registrasi kartunya
Barusan saya mendapat informasi bahwa surat edaran itu hanya hoax
Itu cara para hacker untuk menipu.
Transtv mengumumkan kalau tidak ada kementerian mengeluarkan surat tersebut.
Pengumuman harus daftar ulang kartu adalah HOAX.

Kira-kira pesannya seperti ini yang dikirimkan oleh salah satu teman. Pesan ini tidak hanya dikirim ke satu group tapi kemungkinan ke semua group yang ada.

Bagi saya orang mudah terprovokasi dengan hal-hal yang sepele seperti ini. Tapi jika pesan seperti ini terus berlanjut maka akan berdampak besar terhadap stabilitas keamanan. Kenapa tidak jika hal ini tersebar dan terserap oleh mereka yang gagal paham maka akan memunculkan persepsi negatif terhadap pemerintah dan akan memberatkan pemerintah untuk mendisiplinkan para pengguna kartu prabayar untuk taat dan patuh atas kebijakan yang ada.

Karena itu cukup disayangkan bagi mereka yang mengirim pesan secara beratai tanpa menganalisis kebenaran atau mengecek sumber informasi tersebut. Inilah yang dihadapi oleh bangsa ini karena kurangnya minat baca sehingga terkadang informasi tidak dapat dipahami secara utuh namun dimengerti secara terpisah. Akhinya mereka ikut gagal paham namun sok tau atas kebenaran informasi tersebut.

Saya menafsirkan kata Hoax itu betul jika kita membaca beberapa judul berita dari beberapa media terpercaya seperti kompas yang mengusung judul “ Hoax, Registrasi prabayar paling lambat 31 Oktober 2017. Liputan6, Operator imbau pengguna tak termakan Hoax registrasi kartu”. Memang kata hoax itu ada dan benar adanya, tapi yang salah ketika menafsirkan bahwa registrasi kartu hanya hoax dan tidak pernah ada himbauan dari kementerian terkait. Yang Hoax itu karena beredarnya info mengenai batas registrasi hanya sampai 31 Oktober 2017 padahal yang benar dari kementerian terkait registrasi kartu prabayar dapat dilakukan dari tanggal 31 Oktober 2017- 28 Februari 2018.

Karena itu, cukup disayangkan kurangnya pengetahuan, adanya rasa malas yang mendalam, adanya keinginan untuk dipuji sehingga terkadang membuat kita salah langkah membagikan sesuatu yang kita sendiri belum cerna, belum tau kebenarannya, dan tidak jelas sumbernya.

Mungkin saja karena budaya membaca yang dimiliki bangsa kita hanya berada di kisaran 0,001%. Sehingga hal ini yang membuat bangsa ini tidak pernah maju sama dengan bangsa lain. Kekurangan kita dan saya secara pribadi adalah lebih cenderung melihat kekurangan itu sebagai prioritas tanpa melihat kelebihan dan kebaikan yang ada. sehingga apresiasi keberhasilan sangatlah sedikit bahkan tidak ada.

Mungkin hanya ini yang bisa saya tulis hari ini. Karena hari sudah berada dipuncak peraduannya maka sudah saatnya kembali melanjutkan aktifitas yang lain, tapi pastinya tidak ditemani oleh secangkir kopi pait tapi segelas susu hangat dan seberkas senyum mungil dari bidadariku yang lagi sementara kuliah disana. Jangan baper yha......





Diberdayakan oleh Blogger.